Mediago.id- Di tengah gelombang perubahan gaya hidup dan kesadaran lingkungan, aktivitas “thrifting” semakin menggema di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
Istilah thrifting yang merujuk pada kegiatan membeli atau menjual barang bekas, terutama pakaian, kini telah menjadi lebih dari sekadar strategi hemat. Ia berubah menjadi gaya hidup yang memadukan kreativitas, keberlanjutan, dan tren mode alternatif.
Lalu, apa yang membuat thrifting menjadi populer? Apa manfaatnya bagi individu dan lingkungan? Dan di sisi lain, dampak apa yang mungkin muncul dari tren ini? Simak ulasan lengkapnya berikut.
Alasan di Balik Popularitas Thrifting
Salah satu pendorong utama popularitas thrifting adalah faktor ekonomi: bagi banyak orang, terutama di era biaya hidup yang naik dan ketidakpastian keuangan, membeli barang bekas menjadi pilihan yang lebih terjangkau.
Selain itu, faktor sosial-kultural juga memainkan peran besar. Di Indonesia misalnya, tren thrifting mulai berkembang pesat karena media sosial, influencer, dan keinginan generasi muda untuk tampil beda dengan gaya yang unik dan “tidak pasaran”.
Thrifting juga semakin dipandang sebagai bagian dari gerakan mode berkelanjutan. Konsumen kian sadar bahwa industri mode konvensional menghasilkan limbah besar dan menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan. Dengan memilih barang bekas, mereka turut mengurangi produksi baru dan mendukung konsep ekonomi sirkular.
Manfaat Thrifting
1. Hemat Anggaran
Membeli barang bekas umumnya jauh lebih murah dibanding barang baru. Ini memungkinkan konsumen—termasuk pelajar, pekerja muda—untuk mendapatkan kualitas baik dengan harga yang lebih ramah budget.
2. Mendukung Lingkungan
Dengan mengurangi permintaan produksi pakaian baru, thrifting membantu menghemat air, energi, dan bahan baku. Misalnya, produksi satu kaos katun bisa memakan ribuan liter air.
3. Mendukung Ekonomi Sirkular
Thrifting memperpanjang usia pakai barang, meminimalkan limbah tekstil, serta mengubah pola konsumsi dari “pakai sekali – buang” menuju “pakai ulang”.
4. Ekspresi Gaya & Kreativitas
Barang bekas seringkali menawarkan desain dan model yang unik — yang tak selalu tersedia di pasar masa kini. Hal ini memberi ruang bagi individu untuk tampil dengan identitas gaya yang berbeda.
Dampak & Tantangan dari Thrifting
Meski memiliki banyak sisi positif, tren thrifting juga membawa beberapa dampak dan tantangan yang perlu diperhatikan.
Dampak positif lingkungan dan sosial: misalnya, di beberapa wilayah reuse (penggunaan ulang) lewat thrift berhasil mengurangi emisi, memanfaatkan kembali barang, dan menguatkan industri lokal reuse.
Tantangan dan potensi dampak negatif:
- Ada kekhawatiran bahwa pertumbuhan thrifting massal — terutama oleh konsumen dari kalangan lebih mampu — dapat menaikkan harga barang bekas, sehingga menyulitkan kelompok dengan pendapatan rendah yang sebelumnya mengandalkan thrift sebagai alternatif hemat.
- Di Indonesia, studi menunjukkan bahwa masuknya pakaian bekas impor dalam volume besar bisa berdampak pada pelaku usaha lokal di sektor tekstil dan garmen yang bersaing dengan harga barang bekas sangat murah.
- Stigma sosial masih melekat pada thrifting di beberapa lapisan masyarakat: barang bekas kadang masih diasosiasikan dengan konsumsi yang “terpaksa” atau kelas bawah, meskipun tren ini sudah bergeser signifikan.
Mengapa Tren Ini Layak Diikut
Bagi Anda yang tertarik mencoba thrifting, terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan agar manfaatnya maksimal:
- Periksa kondisi barang: pastikan layak pakai, bersih, dan tidak rusak.
- Kombinasikan barang thrift dengan gaya Anda sendiri agar terlihat personal dan tidak sekadar “bekas”.
- Pertimbangkan konteks lokal: di Indonesia, dukunglah usaha–usaha thrift lokal yang sehat agar dampak ekonomi lokal positif.
- Jika membeli secara online, waspadai kualitas dan reputasi penjual, karena convenience = risiko.
- Jadikan thrifting sebagai bagian dari pola konsumsi yang lebih bijak, bukan sekadar alternatif cepat untuk membeli banyak barang baru secara terus-menerus.
Baca Juga: 5 Jenis Bahan Pakaian yang Cocok Digunakan Untuk Cuaca PanasTren thrifting bukan sekadar tren sementara, melainkan cerminan perubahan cara kita melihat konsumsi, gaya hidup, dan lingkungan. Dari sisi ekonomi, lingkungan, maupun gaya, aktivitas membeli barang bekas menawarkan banyak keuntungan.
Namun, seperti semua tren besar lainnya, thrifting juga memiliki sisi kompleks yang perlu disikapi dengan bijak termasuk dampak pada ekosistem lokal dan potensi peningkatan harga barang bekas untuk kelompok dengan pendapatan rendah.
Dengan memahami manfaat, dampak, dan alasan popularitasnya, kita bisa menjadikan thrifting sebagai pilihan yang lebih dari sekadar mencari harga murah: yakni sebagai bagian dari gaya hidup yang cerdas, kreatif, dan berkelanjutan.




