Mediago.id- Switzerland merupakan salah satu negara federal dibagian Eropa Tengah yang dikenal dengan negara yang tampak begitu kaya akan keindahan alamnya, kesejukannya, sistem pemerintahan, dan status netral dalam konflik internasional yang stabil.
Namun dengan segala kerapihan dan keindahan yang dimiliki, apakah kehidupan disana benar seindah dan sesuai dengan apa yang kita kira?
Citra Switzerland dimata dunia
Meskipun Swiszerland termasuk negara yang menempati peringkat tinggi dalam kualitas hidup, stabilitas ekonomi, dan indeks kebahagiaan (negara netral nan kaya raya), namun dari sudut pandang mental dan sosial negara ini memiliki cerita yang berbeda.
Faktor yang Membuat Switzerland Jadi Negara Depresi

1. Biaya Hidup yang Amat Tinggi
Menurut data William Russell pada tahun ini (20225), Swiss menempati peringkat tertinggi sebagai negara paling mahal bagi ekspatriat, dengan skor 9,29/10. Misalnya, makan malam untuk dua orang di restoran sedang bisa mencapai £99,84, dan gym membership bulanannya sekitar £65,74.
2. Kesehatan Mental yang Tertekan
- Survei FSO 2022 menunjukkan bahwa 7,9% pria dan 11,7% wanita menderita depresi sedang hingga serius
- Sekitar 26% responden survei Axa melaporkan masalah kesehatan mental dengan 15% mengalami depresi dan sebagian besar menyebut lingkungan kerja sebagai penyebab utama.
- Data lain menyatakan bahwa 20–30% penduduk menderita gangguan psikologis klinis; satu dari enam orang mengalami masalah kesehatan mental.
3. Kesepian, Terutama di Kalangan Lansia
Lebih dari sepertiga (37%) orang berusia 85 tahun ke atas di Swiss menderita kesepian – sekitar 90.000 manula, menurut Observatoire vieillesse Pro Senectute, ini terjadi karena hilangnya mobilitas sering disertai dengan menyusutnya jejaring sosial. Kesepian ini punya dampak serius terhadap kesehatan, termasuk risiko tekanan darah tinggi, demensia, hingga berkurangnya harapan hidup.
4. Depresi Musiman
Hasil studi menunjukkan sekitar 2,2% populasi Swiss mengalami Seasonal Affective Disorder (SAD), dan tambahan 8,9% mengalami bentuk sub-sindromal SAD. Ini menunjukan bahwa pada musim dingin yang panjang, bisa memperparah suasana hati sebagian orang terutama di wilayah seperti Basel dan Zurich.
5. Tingkat Bunuh Diri yang Stabil namun Mengganggu
Pada tahun 2021, tingkat bunuh diri di Swiss diperkirakan ada sekitar 14 per 100.000. Data historis setahun sebelumnya (2014–15) menunjukkan angka non-standar sekitar 12,5 per 100.000. Meskipun tidak ekstrem dibanding negara lain, tingginya tekanan mental tetap menjadi kekhawatiran.
BACA JUGA: Budaya Melayu Deli: 5 Fakta Budaya Melayu Deli yang Bikin BanggaDari 5-point pernyataan tersebut menunjukan bagaimana Switzerland dipromosikan sebagai simbol kemakmuran, ketenangan, dan pariwisata sehingga narasi tentang bahagia dan tertib jauh lebih dominan namun jarang mengangkat isu-isu paling rumit seperti depresi, kesepian, atau tekanan sosial.
Gabungan faktor-faktor di atasbiaya hidup tinggi, tekanan kerja, isolasi sosial, musim dingin yang panjang, berkontribusi pada angka depresi dan stres yang signifikan. Kelompok renta, pekerja, dan kaum muda perempuan (15–24 tahun) adalah yang paling rentan. Misalnya, 29% perempuan muda (15–24 tahun) mengalami tekanan mental, meningkat 19% sejak tahun 2017.
Switzerland bukan hanya indah dan makmur, tetapi juga memiliki sisi gelap yang perlu disorot. Dengan biaya hidup tinggi, tekanan sosial, kesepian, dan masalah kesehatan mental yang nyata mebuat dorongan dan bertanya kembali apakah kita mampu menghadapi realita nyata yang tidak sesuai di negara paling bahagia sekalipun di dunia?




