SDH Lippo Harapan Sekolah Dian Harapan Display Ad
Sunday, April 26, 2026
spot_imgspot_img
HomeTravelSisi Gelap Switzerland Bisa Jadi Negara Paling Depressing di Eropa?

Sisi Gelap Switzerland Bisa Jadi Negara Paling Depressing di Eropa?

Sisi gelap Switzerland akhirnya terungkap ke publik! Swiss merupakan salah satu negara federal di Eropa Tengah yang dikenal sebagai negara yang tampak begitu kaya akan keindahan alamnya, kesejukannya, sistem pemerintahan, dan status netral dalam konflik internasional yang stabil.

Banyak orang mengenal Switzerland sebagai negara dengan kualitas hidup terbaik di dunia. Namun, di balik keindahan alam dan ekonominya yang stabil, terdapat sisi gelap Switzerland yang jarang diketahui. Tingginya biaya hidup, tekanan kerja, dan budaya individualis membuat negara ini sering dikaitkan dengan tingkat stres dan depresi yang cukup tinggi di Eropa.

Namun, dengan segala kerapian dan keindahan yang dimiliki, apakah kehidupan di sana benar seindah dan sesuai dengan apa yang kita kira?

Citra Switzerland Dimata Dunia

Meskipun Swiss termasuk negara yang menempati peringkat tinggi dalam kualitas hidup, stabilitas ekonomi, dan indeks kebahagiaan (negara netral nan kaya raya), dari sudut pandang mental dan sosial, negara ini memiliki cerita yang berbeda.

Baca Juga: 7 Negara untuk #KaburAjaDulu, Dibayarin Pula!

Sisi Gelap Switzerland yang Jarang Diketahui

Switzerland dikenal sebagai salah satu negara dengan kualitas hidup terbaik di dunia, namun di balik kemakmuran tersebut terdapat sisi gelap yang jarang dibahas. Tingginya biaya hidup di Switzerland, kemudian tekanan kerja, serta budaya individualisme juga menjadi salah satu faktor tekanan mental seperti stres dan kesepian bagi sebagian penduduk.

Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya tingkat depresi di negara maju tersebut. Meski memiliki sistem ekonomi yang stabil dan lingkungan yang tertata rapi, kehidupan di Switzerland tidak selalu seindah yang dibayangkan oleh banyak orang.

kehidupan di Switzerland
Gambar: www.swissinfo.ch

1. Biaya Hidup yang Amat Tinggi

Menurut data William Russell pada tahun ini (2025), kehidupan di Switzerland menempati peringkat tertinggi sebagai negara paling mahal bagi ekspatriat, dengan skor 9,29/10. Misalnya, makan malam untuk dua orang di restoran sedang bisa mencapai £99,84 dan gym membership bulanannya sekitar £65,74.

2. Kesehatan Mental yang Tertekan

  • Survei FSO 2022 yang dikutip dalam www.swissstats.bfs.admin.ch menunjukkan bahwa 7,9% pria dan 11,7% wanita menderita depresi sedang hingga serius
  • Sekitar 26% responden survei Axa melaporkan masalah kesehatan mental, dengan 15% mengalami depresi, dan sebagian besar menyebut lingkungan kerja sebagai penyebab utama.
  • Data lain menyatakan bahwa 20–30% penduduk menderita gangguan psikologis klinis; satu dari enam orang mengalami masalah kesehatan mental.

3. Kesepian, Terutama di Kalangan Lansia

Dalam www.swissinfo.ch, sebuah artikel yang berjudul “Over a third of Swiss seniors suffer from loneliness as volunteer shortage worsens” menyebutkan bahwa lebih dari sepertiga (37%) orang berusia 85 tahun ke atas di Swiss menderita kesepian—sekitar 90.000 manula, menurut Observatoire vieillesse Pro Senectute. Ini terjadi karena hilangnya mobilitas sering disertai dengan menyusutnya jejaring sosial. Kesepian ini punya dampak serius terhadap kesehatan, termasuk risiko tekanan darah tinggi, demensia, hingga berkurangnya harapan hidup.

4. Depresi Musiman

Hasil studi menunjukkan sekitar 2,2% populasi Swiss mengalami Seasonal Affective Disorder (SAD) dan tambahan 8,9% mengalami bentuk subsindromal SAD. Ini menunjukkan bahwa musim dingin yang panjang bisa memperparah suasana hati sebagian orang, terutama di wilayah seperti Basel dan Zurich.

5. Tingkat Bunuh Diri yang Stabil namun Mengganggu

Pada tahun 2021, terungkap sisi gelap Switzerland lainnya bahwa tingkat bunuh diri di Swiss diperkirakan sekitar 14 per 100.000. Data historis setahun sebelumnya (2014–15) menunjukkan angka nonstandar sekitar 12,5 per 100.000. Meskipun tidak ekstrem dibandingkan dengan negara lain, tingginya tekanan mental tetap menjadi kekhawatiran.

BACA JUGA: Budaya Melayu Deli: 5 Fakta Budaya Melayu Deli yang Bikin Bangga

Pernyataan 5-point tersebut menunjukkan bagaimana kehidupan di Switzerland dipromosikan sebagai simbol kemakmuran, ketenangan, dan pariwisata, sehingga narasi tentang bahagia dan tertib jauh lebih dominan, namun jarang mengangkat isu-isu paling rumit dan sisi gelap Switzerland seperti depresi, kesepian, atau tekanan sosial.

Gabungan faktor-faktor di atas, biaya hidup tinggi, tekanan kerja, isolasi sosial, musim dingin yang panjang, berkontribusi pada angka depresi dan stres yang signifikan. Kelompok lansia, pekerja, dan kaum muda perempuan (15–24 tahun) adalah yang paling rentan. Misalnya, 29% perempuan muda (15–24 tahun) mengalami tekanan mental, meningkat 19% sejak tahun 2017.

Fakta Switzerland yang dianggap sebagai negara yang indah dan makmur ini tenyata memiliki sisi gelap yang perlu disorot. Biaya hidup tinggi, tekanan sosial, kesepian, dan masalah kesehatan mental yang nyata membuat kita bertanya kembali apakah kita mampu menghadapi realita yang tidak sesuai di negara paling bahagia sekalipun di dunia?

CopyAMP code
Rafida
Rafida
Seorang sarjana lulusan Komunikasi dan Penyiaran Islam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisment -spot_img
spot_img

Most Popular

spot_img