SDH Lippo Harapan Sekolah Dian Harapan Display Ad
Saturday, May 23, 2026
spot_imgspot_img
HomeGaya HidupAwas Kena Brain Rot! Otak Membusuk karena Social Media

Awas Kena Brain Rot! Otak Membusuk karena Social Media

Istilah brain rot atau “pembusukan otak” kerap digunakan secara santai di media sosial untuk menggambarkan waktu yang dihabiskan terlalu lama dalam dunia digital, mulai dari scroll tanpa henti hingga binge-watching video pendek yang tak berkesudahan.

Namun, para ahli kini mulai menyoroti bahwa fenomena ini bukan sekadar istilah lelucon belaka, melainkan bisa menjadi ancaman nyata bagi kesehatan mental, terutama di kalangan anak-anak dan remaja.

Menurut Dr. Costantino Iadecola, Ketua Feil Family Brain and Mind Research Institute sekaligus ahli saraf di Weill Cornell Medicine, brain rot berisiko tinggi memengaruhi otak yang sedang berkembang, terutama pada anak-anak dan remaja.

Dalam usia tersebut, otak masih berada dalam tahap pembentukan dan sangat rentan terhadap pengaruh eksternal seperti paparan layar berlebihan dan konsumsi konten dangkal.

Apa Itu Brain Rot?

brain rot
A man with a smartphone sits in front of a laptop late at night.

Secara sederhana, brain rot merujuk pada penurunan fungsi mental atau intelektual akibat terlalu sering mengonsumsi konten yang tidak menantang secara kognitif—terutama melalui media sosial. Hal ini ditandai dengan gejala seperti:

  • Brain fog (kabut otak)
  • Menurunnya rentang perhatian
  • Kesulitan mengatur diri sendiri atau fungsi eksekutif
  • Impulsivitas dan kebutuhan akan kepuasan instan

Profesor sosiologi dari Kenyon College, Marci Cottingham, PhD, bahkan mengaku secara pribadi pernah mengalami gejala tersebut. Ia menyadari kondisinya setelah menghabiskan berjam-jam menonton konten TikTok.

“Saya mengalami perasaan ini setelah berjam-jam menonton TikTok,” ujar Cottingham kepada TODAY.

Tanda-Tanda Brain Rot dan Potensi Bahayanya

brain rot
Women Touch And Chatting with smartphone

Hingga kini, riset tentang brain rot memang masih terbatas. Namun, sebuah studi awal yang dipublikasikan pada 2025 di jurnal Brain Sciences mengidentifikasi tiga faktor utama yang mungkin berkontribusi terhadap brain rot:

  1. Screen time yang berlebihan
  2. Kecanduan media sosial
  3. Beban kognitif berlebih (cognitive overload)

Menurut hasil studi tersebut, dampak dari ketiga faktor ini bisa terlihat pada terganggunya fungsi kognitif, seperti memori jangka pendek yang melemah, ketidakmampuan untuk fokus, hingga munculnya perilaku impulsif.

Menariknya, fenomena ini memiliki kemiripan dengan gejala kelelahan mental atau burnout, termasuk perasaan tidak bertenaga, susah konsentrasi, dan kehilangan motivasi. Dalam beberapa kasus, gejala ini bisa muncul secara situasional—misalnya pada hari-hari tertentu saat seseorang lebih stres atau kurang tidur. Namun, dalam kasus lain, kondisi ini bisa terkait dengan masalah klinis yang lebih serius seperti ADHD atau gangguan kecemasan.

Anak muda yang memiliki kecenderungan depresi atau masalah regulasi emosi, misalnya, bisa menjadi lebih rentan terhadap kecanduan media sosial. Platform seperti TikTok atau Instagram, dengan kontennya yang cepat dan menghibur, justru memperparah ketidakmampuan mereka untuk fokus atau merasa puas dalam aktivitas di dunia nyata.

Platform digital dirancang secara algoritmik untuk menarik perhatian sebanyak dan selama mungkin. Konten-konten singkat yang memberikan rangsangan instan memberi sensasi dopamin yang cepat, tetapi tanpa kedalaman. Hal ini menciptakan siklus konsumsi cepat yang bisa menyebabkan otak terbiasa mencari hiburan dangkal, mengurangi kapasitas untuk berpikir mendalam atau menyelesaikan tugas panjang.

Menurut para ahli, otak yang terus-menerus diberi rangsangan tanpa jeda akan kesulitan mengembangkan fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, perencanaan, atau manajemen waktu.

Fenomena Sosial atau Masalah Individu?

brain rot
Elderly man is using mobile phone

Cottingham menyoroti bahwa istilah brain rot juga merupakan refleksi dari perubahan sosial yang lebih luas. Ia melihat kemunculan istilah ini sebagai respon terhadap ketidakpastian zaman, di mana banyak orang, terutama generasi muda merasa tidak memiliki arah yang jelas dalam tindakan individu maupun kolektif.

“Brain rot menunjuk pada momen politik dan budaya yang sedang kita alami, saat orang merasa kehilangan jalur yang jelas untuk bertindak,” jelas Cottingham.

Meskipun istilah brain rot belum diakui secara resmi dalam dunia medis, para peneliti sepakat bahwa fenomena ini layak mendapatkan perhatian lebih. Penelitian jangka panjang diperlukan untuk memahami dampaknya secara lebih menyeluruh, termasuk kaitannya dengan perkembangan otak, kesehatan mental, dan kemampuan kognitif.

Sementara itu, kesadaran akan pola penggunaan media sosial menjadi langkah awal penting. Membatasi waktu layar, menghindari konten yang terlalu dangkal, dan mengalokasikan waktu untuk aktivitas yang melibatkan konsentrasi dan pemikiran mendalam seperti membaca, menulis, atau berolahraga bisa menjadi solusi jangka pendek yang efektif.

Brain rot bukan sekadar istilah viral di internet—ia mencerminkan krisis mentalitas yang sedang berkembang dalam masyarakat digital. Meski belum sepenuhnya dipahami secara ilmiah, dampaknya sudah mulai dirasakan oleh banyak orang. Dengan mengenali gejalanya lebih awal dan membangun kebiasaan digital yang sehat, kita bisa melindungi otak dari kerusakan yang bersifat jangka panjang.

CopyAMP code
Fajria Anindya Utami
Fajria Anindya Utami
A passionate content writer who has eagerly enhance her skill everyday. And a journalist background with strong economic experience.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisment -spot_img
spot_img

Most Popular

spot_img