Batu ginjal merupakan salah satu penyakit saluran kemih yang cukup umum dan bisa menimbulkan rasa nyeri luar biasa. Untungnya, perkembangan dunia medis saat ini memungkinkan penanganan batu ginjal dilakukan secara lebih canggih dan minim invasif, sehingga pasien tidak perlu lagi mengalami luka besar akibat operasi terbuka.
Metode Penanganan Batu Ginjal

Dokter memiliki sejumlah pilihan metode untuk menghancurkan dan mengeluarkan batu ginjal. Pemilihan prosedur sangat bergantung pada ukuran batu, lokasi batu di ginjal atau saluran kemih, serta kondisi kesehatan umum pasien. Beberapa metode yang umum digunakan antara lain:
1. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy)
Prosedur ini menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh untuk menghancurkan batu ginjal menjadi serpihan kecil agar mudah keluar melalui saluran kemih.
- Jenis prosedur: Non-bedah
- Vegetasi tubuh: Tidak ada luka atau sayatan
- Lokasi perawatan: RS besar di kota besar
- Cocok untuk: Batu ginjal berukuran kecil hingga sedang
2. RIRS (Retrograde Intrarenal Surgery)
Menggunakan alat endoskop fleksibel yang dimasukkan melalui saluran kemih hingga ke ginjal. Batu dihancurkan menggunakan laser, lalu serpihan batu dikeluarkan.
- Jenis prosedur: Minim invasif
- Tanpa sayatan luar
- Cocok untuk: Batu ginjal yang letaknya sulit dijangkau atau ukurannya kecil–menengah
3. PCNL (Percutaneous Nephrolithotomy)
Melibatkan pembuatan sayatan kecil di punggung agar alat bisa masuk langsung ke ginjal dan mengangkat batu.
- Jenis prosedur: Bedah kecil
- Cocok untuk: Batu ginjal besar atau kompleks
- Kelebihan: Lebih efektif untuk batu berukuran besar
Robotic Operasi Penanganan Batu Ginjal

Salah satu terobosan terbaru dalam dunia urologi adalah penggunaan robot dalam prosedur RIRS. Di Indonesia, teknik ini mulai diterapkan di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, sebagaimana dikutip dari Detik di Jakarta, Jum’at (18/7/25).
Menurut Dr dr Widi Atmoko, SpU(K), FECSM, FACS, spesialis urologi dari RSCM, robot sangat membantu dalam meningkatkan presisi operasi. Dengan teknologi ini, dokter tidak lagi memegang langsung alat fleksibel, melainkan mengontrolnya melalui konsol—mirip seperti bermain video game.
“Robot ini membantu kami dalam tindakan RIRS. Dia memecahkan batu di dalam ginjal dengan laser. Alat ini masuk melalui saluran kencing dan bisa bergerak fleksibel ke berbagai sudut,” jelas dr Widi dalam wawancaranya kepada detikcom pada Rabu (25 Juni 2025).
Robot memungkinkan dokter melihat seluruh bagian dalam ginjal secara detail melalui kamera canggih. Hal ini mempermudah proses pencarian dan penghancuran batu, bahkan dalam prosedur yang memakan waktu satu hingga dua jam.
Keuntungan Operasi Batu Ginjal dengan Robot
Penggunaan robotic surgery membawa banyak keuntungan, baik untuk pasien maupun dokter. Di antaranya:
- Minim Luka: Prosedur dilakukan tanpa sayatan, mempercepat waktu pemulihan.
- Presisi Tinggi: Robot mampu menjangkau bagian-bagian sulit dalam ginjal.
- Risiko Komplikasi Lebih Rendah: Pendarahan dan infeksi bisa diminimalkan.
- Kenyamanan Dokter: Prosedur menjadi tidak terlalu melelahkan, terutama dalam operasi berdurasi lama.
- Paparan Radiasi Rendah: Karena dokter bekerja dari konsol, mereka tidak terkena langsung paparan sinar X.
“Dengan robotic RIRS, risiko perdarahan lebih kecil, pasien lebih cepat pulih, dan dokter juga tidak cepat lelah selama operasi berlangsung,” tambah dr Widi.
Tantangan dalam Implementasi Robotic Surgery
Meski menjanjikan, penggunaan teknologi robot dalam bedah urologi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama di Indonesia:
- Biaya Tinggi: Peralatan robotik sangat mahal, sehingga memerlukan investasi besar dari pihak rumah sakit maupun pemerintah.
- Kebutuhan Pelatihan Khusus: Dokter perlu menjalani pelatihan intensif untuk menguasai teknologi ini secara optimal.
“Tantangannya ada di investasi alat dan pelatihan dokter. Tapi ini adalah langkah besar untuk meningkatkan pelayanan kesehatan,” ujar dr Widi.
Pionir Robotic RIRS di Indonesia
Operasi batu ginjal dengan bantuan robot pertama kali dilakukan di Indonesia oleh tim dokter urologi RSCM yang terdiri dari:
- Prof dr Ponco Birowo, SpU(K), PhD
- Dr dr Widi Atmoko, SpU(K), FECSM, FACS
- dr Dyandra Parikesit, BMedSc, SpU, FICS
Langkah ini menandai pencapaian penting dalam dunia medis Tanah Air, sekaligus memperkuat posisi RSCM sebagai pelopor layanan urologi modern.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa dokter Indonesia mampu menguasai teknologi tinggi secara mandiri,” tutup dr Widi.
Dengan perkembangan teknologi medis seperti robotic RIRS, masa depan penanganan batu ginjal di Indonesia menjadi semakin cerah. Pasien kini bisa berharap pada prosedur yang lebih aman, minim luka, dan efisien tanpa harus ke luar negeri untuk mendapatkan layanan kesehatan terbaik.




