SDH Lippo Harapan Sekolah Dian Harapan Display Ad
Sunday, May 26, 2024
spot_imgspot_img
HomeTeknoPentingnya Etika dan Toleransi dalam Bermedia Sosial

Pentingnya Etika dan Toleransi dalam Bermedia Sosial

MediaGO – Kemajuan teknologi yang terjadi seiring dengan penerapan Revolusi Industri 4.0 turut berdampak juga pada pola peilaku dan aktivitas manusia. Hal itu tergambar melalui interkonektivitas yang cepat satu dengan yang lainnya. Kemajuan teknologi juga telah menjadikan pertukaran informasi tanpa sekat dan batasan sesuai dengan slogan IoT (Internet of Things).

Beragam informasi pun kin dengan sangat mudahnya didapat dan disebarkan meski hanya dengan satu kali ketukan jari. Kemajuan teknologi ini mengakibatkan perubahan perilaku pada sebagian orang, khususnya generasi millenial dan generasi Z yang gemar berselancar di dunia maya.

Interaksi yang dahulu leih sering dilakukan dengan tatap muka, kini sudah beralih melalui ruang digital yang disebut sosial media. Lantas, bagaimanakah caranya untuk tetap mmenjalani komunikasi yang baik dan indah, serta menjaga toleransi?

Baca juga: Lebih Kreatif Dan Produktif Di Dunia Digital

Hal itu semua, dipaparkan dengan jelas dalam Webinar bertajuk “Ngobrol Bareng Legislator : Sosial Media Indah dan Penuh Toleransi”. Kegiatan tersebut, turut diramaikan oleh Anggota Komisi 1 DPR RI Kresna Dewanata Prosahk, Dirjen Aptika Kemenkominfo, Samuel Abrijani Pangerapan, B.Sc, dan Direktur Komunikasi Perdana Syndicate, Pangeran Ahmad Nurdin.

Dalam materi yang disampaikan, Pangeran Ahmad Nurdin selaku Direktur Komunikasi Perdana Syndicate menyampaikan bahwa media sosial bukanlah hal yang baru. Tetapi waktu untuk mengadopsi media sosial itu berbeda-beda. Tentunya, hal itu akan mempengaruhi juga cara untuk berinteraksi dalam media sosial itu sendiri.

“Sebelum menuju media sosial yang indah dan penuh toleransi kita perlu tahu seperti apa media sosial di Indonesia. Landscape media sosial di Indonesia sangat beragam dan penggunanya sangat masif. Indonesia di dalam lingkupan di South East Asia merupakan pengguna internet terbesar. Sebanyak 96% orang Indonesia memiliki smartphone. Sebagian besar masyarakat Indonesia menggunakan internet lebih dari 8 jam dan 3 jam dalam sehari yang digunakan untuk mengakses sosial media,” ujar Pangeran Nurdin Ahmad dalam webinar tersebut, Jumat (01/04/2022).

Namun kadang kala, lanjutnya, sepanjang waktu itu manusia cenderung kerap untuk melaukan hal yang tak terkontrol hingga merusak hal-hal indah yang dapat dijumpai di sosial media. Selain itu, kebiasaan tersebut dinilai juga dapat menghilangkan toleransi saat berkomunikasi. Untuk itu, dalam hal ini sangatlah diperlukan untuk menanamkan filter pada pribadi masing-masing.

“Media sosial dan kebebasan berpendapat. Inti dari demokrasi adalah freedom of expression atau kebebasan berpendapat. Hak bisa dilaksanakan tapi jika dilaksanakan secara penuh dapat mengganggu toleransi. Sesuatu too good to be true kita wajib curiga dan tidak yakin, jika kita tidak yakin maka jangan kita share ke orang lain karena bisa membahayakan. Yang kedua itu no hate speech, perlakukan sosial media seperti kita bersosisalisasi seperti kita bersosialisasi seperti biasa. Edukasi safety and privacy,” paparnya.

Menurutnya, ada beberapa cara untuk menekan intoleransi, di antaranya membangun rational public discourse, menghindari bullying terhadap pendapat yang berbeda, tidak memberikan ruang berkembang bagi pendapat yang intoleran.

“Serta tidak melakukan banning (pemblokiran) terhadap tindakan intoleran hanya akan membuat individu yang intoleran merasa benar dan mencari wadah media sosial baru tetapi mematahkan argumennya dahulu dan menjelaskan tindakan intoleransinya. Membangun sosial media yang indah adalah hal yang inklusif. Ketika kita menembakan kebohongan dalam skala yang besar pada satu titik orang aakn menganggap itu adalah hal yang benar.

Anggota Komisi 1 DPR RI, Kresna Dewanata Prosahk memaparkan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang paling toleran, dengan banyaknya suku, agama, ras dan budaya semuanya menyatu di Indonesia. Keberagaman ini bukan tercipta untuk dijaga.

“Sehingga kita jangan sampai membuat peluang untuk kaum-kaum intoleran untuk mengganggu negeri kita ini. Saat ini kita tahu sendiri dengan banyaknya grup, kemudian platform-platform media sosial yang digunakan untuk mendoktrin anak-anak kita, adik-adik kita, masyarakat kita, untuk terpengaruh dan mereka terpecah belah. Salah satunya yaitu adu domba, menggunakan isu-isu gama dan ras. Jangan sampai kita menjadi bagian tersebut. Mari kita gunakan media sosial dengan baik. Sehingga kita bisa lebih produktif, inovatif, kemudian kita juga bisa membuat kegiatan untuk membesarkan bangsa ini,” ungkapnya.

Baca juga: Peran Media Sosial Dalam Memberantas Kekerasan Online

Oleh karena itu, Dirjen Aptika Kemenkominfo, Samuel Abrijani Pangerapan, B.Sc menerangkan, Kementerian Kominfo hadir untuk menjadi garda terdepan dalam memimpin upaya percepatan transformasi digital Indonesia. Dalam hal ini, Kemenkominfo memiliki  peran sebagai regulator, fasilitator, dan ekselerator di bidang digital Indonesia.

“Berbagai pelatihan literasi digital yang kami berikan berbasis empat pilar utama, yaitu kecakapan digital, budaya digital, etika digital, dan pemahaman digital. Hingga tahun 2021 tahun program literasi digital ini telah berhasil menjangkau lebih dari 12 juta masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

CopyAMP code

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisment -spot_img

Most Popular