MediaGo – Penamaan gedung kesenian Miss Tjitjih diambil dari nama seorang pemain teater asal Kota Sumedang, Jawa Barat bernama Nyi Tjitjih. Saat usia remaja, Nyi Tjitjih masih bermain teater di daerah asalnya.
Gedung Kesenian Miss Tjitjih dikenal sebagai salah satu pusat pertunjukan seni dan budaya Betawi yang memiliki nilai sejarah tinggi di Jakarta. Bangunan ini menjadi saksi perkembangan seni pertunjukan tradisional yang masih bertahan hingga saat ini.
Peran Gedung Kesenian Miss Tjitjih dalam Seni Budaya Jakarta
Gedung Miss Tjitjih tidak hanya menjadi tempat pertunjukan seni, tetapi juga simbol pelestarian budaya Betawi di Jakarta. Berbagai pementasan teater dan seni tradisional rutin digelar sebagai upaya menjaga warisan budaya agar tetap dikenal generasi muda.
Mengutip dari situs Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Nyi Tjitjih kemudian bertemu dengan Grup Opera Valencia, sebuah kelompok sandiwara keliling asal Jawa Timur yang sedang mengadakan tur di Jawa Barat dan singgah di Sumedang pada tahun 1926.
Sayyed Aboebakar Bafaqih, sebagai pemimpin kelompok, tertarik dengan penampilan Nyi Tjitjih di atas panggung dan mengajak bergabung dalam kelompok sandiwara keliling tersebut. Saat itu, usianya sekitar 18 tahun.
Kemudian grup Opera Valencia itu berubah nama menjadi Sandiwara Miss Tjitjih. Setelah berubah nama, kelompok itu berkembang pesat dan nama Nyi Tjitjih semakin populer.
Pada tahun 1928, kelompok Sandiwara Miss Tjitjih hijrah ke Jakarta. Pada tahun 1951, Sandiwara Miss Tjitjih mendapat tempat di Jalan Kramat Raya No.43, Jakarta Pusat.
Di masa itu, kelompok teater itu mencapai puncak keemasan. Hampir setiap hari Sandiwara Miss Tjitjih melakukan pementasan dan menarik minat penonton dari berbagai daerah di luar Jakarta.

Selain itu, banyak pihak memberikan apresiasi positif terhadap kelompok Sandiwara Miss Tjitjih yang dinilai telah melestarikan seni tradisional.
Sepeninggal Miss Tjitjih dan Bafaqih, kelompok teater ini sempat berpindah tempat. Tempat awalnya yang berada di Jalan Kramat Raya No.43 Jakarta Pusat dijual oleh para ahli waris.
Harun Bafagih, satu-satunya anak Abu Bakar Bafagih yang mempunyai jiwa seni memutuskan untuk meneruskan jejak ayahnya.
| Baca juga: Rekayasa Lalu Lintas Arus Mudik Lebaran 2023 Mulai dari One Way, Contra Flow sampai Ganjil Genap |
Dia memulai kembali Sandiwara Miss Tjitjih dengan membangun sebuah tempat di Jalan Stasiun Angke No.2, Jakarta Barat. Namun, pada tahun 1987, tempat itu tergusur.
Setelah kelompok itu membentuk Yayasan, Pemerintah DKI Jakarta kemudian membangun Gedung Kesenian Miss Tjitjih di daerah Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Kini, gedung tersebut berada di bawah naungan Dinas Provinsi DKI Jakarta. Selain digunakan untuk tempat pementasan, Gedung Pertunjukan Kesenian Miss Tjitjih juga biasa digunakan untuk latihan teater dan kegiatan seni lainnya.
Jakarta memiliki banyak bangunan bersejarah lain yang kini tetap dijaga keasriannya. Mulai dari tempat ibadah agama, seperti salah satunya kelenteng tertua di Jakarta yang berada di daerah Glodok, Kota (Petak 9) yang masih berdiri hingga kini dan digunakan saat perayaan Imlek setiap tahunnya, hingga bangunan lainnya yang menyimpan cerita sejarah di dalamnya.
Alamat Gedung Kesenian Miss Tjitjih
Jalan Kabel Pendek, RT. 9 RW. 2, Cemp. Baru, Kec. Kemayoran, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10640




