MediaGo – Perayaan Tahun Baru Imlek yang diperingati setiap tahunnya dan khusus tahun 2023, Hari Raya Imlek jatuh pada hari Minggu, 22 Januari 2023. Pada hari itu, umumnya masyarakat etnis Tionghoa khususnya bagi yang beragama Khonghucu akan datang beribadah di kelenteng.
Keberadaan kelenteng tertua di Jakarta tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan sejarah komunitas Tionghoa di ibu kota. Bangunan bersejarah ini menjadi bagian penting dari warisan budaya dan wisata sejarah yang masih terjaga hingga kini.
Selain kelenteng sebagai rumah ibadah, Indonesia memiliki banyak warisan budaya unik yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Baca juga: Sambut Imlek, Ini Rekomendasi Liburan Terjangkau Bernuansa Pecinan
Sebagian dari kelenteng-kelenteng tertua di Jakarta masih dalam kondisi terawat apik. Konstruksinya, ornamennya, hingga detail corak warnanya pun masih sangat terjaga. Keberadaannya kini bukan hanya sebagai sarana peribadatan masyarakat beragama Konghucu, tetapi juga menjadi cagar budaya dan daya tarik pariwisata peribadatan di Jakarta.
Lantas, apa-apa kelenteng tertua di Jakarta, bagaimana sejarahnya, dan di mana lokasinya? Berikut ini sekilas sejarah empat kelenteng tertua di Jakarta, dikutip dari Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta.
Kelenteng Tertua di Jakarta sebagai Wisata Sejarah
Selain menjadi tempat ibadah, kelenteng tertua di Jakarta juga dikenal sebagai destinasi wisata sejarah yang menarik. Banyak wisatawan datang untuk melihat arsitektur klasik, ornamen khas Tionghoa, serta memahami sejarah panjang komunitas Tionghoa di Jakarta yang telah berlangsung ratusan tahun.
1. Kelenteng Jin De Yuan

Awalnya, kelenteng ini bernama Koan Im Teng, yang artinya Paviliun Koan Im. Tempat ini dibangun pada tahun 1650 oleh seorang letnan Tionghoa bernama Kwee Hoen. Kelenteng Koan Im Teng ini dipersembahkan untuk menghormati Dewi Koan Im atau Dewi Welas Asih.
Kelenteng ini sempat menjadi sasaran penyerangan dan dibakar pada 1740 saat peristiwa Tragedi Pembantaian Angke, di masa kolonialisme Belanda. Pada tahun 1755, kelenteng itu dipugar oleh Kapten Oei Tjhie.

Kelenteng ini kemudian diberi nama Kim Tek Ie atau Jin De Yuang yang artinya Kebajikan Emas. Nama tersebut disematkan untuk mengingatkan manusia agar tidak hanya mementingkan kehidupan materialistis saja, tetapi lebih mementingkan kebajikan antarsesama manusia.
Kelenteng ini terletak di Jalan Kemenangan III No.13, Glodok, Jakarta Barat, dan berdiri di atas tanah seluas 3.000 meter persegi serta menjadi bagian dari Kawasan Cagar Budaya Kota Tua. Dalam perkembangannya, masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan Kelenteng Petak Sembilan atau Wihara Dharma Bhakti.
2. Kelenteng Gunung Sari

Salah satu kelenteng tertua di Jakarta ini terletak di Jalan Laotze No. 38 di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Kelenteng ini punya banyak nama atau sebutan. Ada yang menyebutnya Kelenteng Sentiong, Kelenteng Kuburan Batu, Kelenteng Gunung Sari atau Gunung Sahari dan Kelenteng Tepekong. Sebutan lainnya adalah Kelenteng Wan Jie Si atau Wihara Buddhayana.
Sejarah dari kelenteng ini mulanya tidak difungsikan sebagai tempat peribadatan kaum Tionghoa. Asal muasal bangunan itu adalah kepunyaan seorang anggota Dewan Hindia Belanda, yaitu Frederik Julius Coyett, yang dibangun pada tahun 1736 untuk tempat peristirahatan di luar kota.
Baca juga: 8 Tips Menabung di Tahun Kelinci Air
Semasa hidupnya, selain sebagai pejabat, Coyett dikenal sebagai kolektor arca Hindu dan Buddha. Coyett tinggal bersama istrinya, GM Goossens. Sebelum wafat, Goossens sempat menjual rumah warisan mendiang suaminya dan status rumah tersebut beberapa kali berganti kepemilikan.

Pada 1761, rumah tersebut dimilik oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jacob Mossel. Setelah wafat, rumah itu lalu dibeli oleh seorang spekulan yang tinggal di Batavia, yaitu Simon Josephe. Sejak itu, hunian berikut pekarangan di sekitarnya disebut Goenong Sarie.
Josephe lalu menjual rumahnya kepada seorang kapiten Tionghoa bernama Lim Tjhip Ko. Bangunan dan tanah pekarangan itu berubah fungsinya menjadi kelenteng. Lalu pada 1888, rumah berikut pekarangannya secara resmi menjadi milik Kong Koan atau Dewan Orang Tionghoa.
Sejak rumah tersebut masih dipunyai oleh Mossel, sebenarnya mayoritas warga Tionghoa menghendaki agar bangunan berikut tanahnya dapat segera dibeli untuk perluasan pekuburan baru. Dari penamaan Tionghoa, kelenteng itu dinamai Wan Jie Sie dan pada masa Orde Baru tempat peribadatan itu dinamai Wihara Buddhayana.
3. Kelenteng Toa Peh Kong
Kelenteng tertua di Jakarta ini mempunyai beberapa sebutan, seperti Toa Peh Kong, Kelenteng Ancol, Kelenteng Ronggeng, Kelenteng Da Bo Gong, dan Vihara Bahtera Bhakti. Dilansir encyclopedia.jakarta-tourism.go.id, penyebutan Toa Peh Kong merupakan pelafalan dari dialek Hokkian dan istilah tersebut semirip dengan Da Bo Gong atau Fude Zheng Sen.
Dalam keyakinan orang Tionghoa, Toa Peh Kong atau Topekong dimaknai sebagai bayangan roh yang dijadikan objek persembahyangan di suatu kawasan. Serupa dengan Kelenteng Jin De Yuan, keunikan Kelenteng Toa Peh Kong terletak pada multikulturalismenya yang menjadi simbol kerukunan antarumat beragama. Bedanya, Kelenteng Toa Peh Kong juga didatangi oleh peziarah Muslim.
Dari buku yang ditulis oleh Diyah Wara Restiyati dan Nicholas Rafaellito yang berjudul: “Bangunan Cagar Budaya Berlanggam Cina Di Jakarta” yang diterbitkan tahun 2018 oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan ada dua versi mengenai sejarah kelenteng tersebut.

Versi pertama, menurut Salmon dan Lombard (1985), klenteng ini dibangun sekitar tahun 1650 atau sezaman dengan klenteng Jin De Yuan di Petak Sembilan atas perintah seorang kapiten Cina bernama Lim Teng Tjauw.
Sedangkan versi kedua, yaitu dari cerita yang diwariskan secara turun temurun, bahwa kelenteng itu sudah ada jauh sebelum Lim Teng Tjauw mendirikan kelenteng, yaitu sekitar tahun 1425-an dan dipergunakan sebagai tempat memuja Sam Po Soei Soe, atau Wu Ping, seorang juru masak Laksamana Cheng Ho dan istrinya ibu Sitiwati yang beragama Islam.
Baca juga: 5 Makanan Khas Imlek yang Wajib Disajikan
Mengingat posisinya berada dekat dengan laut, kelenteng ini sering terdampak abrasi, banjir rob atau efek genangan air hujan. Kelenteng ini telah mengalami beberapa renovasi, terutama di bagian altar utama yang berada di atas makam Sam Po Soei Soe dan Sitiwati, seorang penari Sunda.
Tepat di bagian belakang altar utama, terdapat makam Embah Said Areli Dato Kembang bersama istrinya, Ibu Enneng (Pha-Poo), yang dipercaya sebagai makam orang tua Ibu Sitiwati. Kelenteng tertua di Jakarta ini terletak di Jalan Pantai Sanur No 5, Binaria Ancol, Jakarta Utara.
4. Kelenteng Hian Thian Shang Tee Bio

Kelenteng tertua di Jakarta, Hian Thian Shang Tee Bio, berada di Jalan Palmerah Selatan RT 004 RW 002, Kelurahan Gelora, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Nama kelenteng itu diambil dari seorang dewa yang sangat dihormati oleh umat Khonghucu, yaitu Dewa Hian Thian Siang Tee Bio.
Dari buku yang ditulis oleh Diyah Wara Restiyati dan Nicholas Rafaellito yang berjudul: “Bangunan Cagar Budaya Berlanggam Cina Di Jakarta” yang diterbitkan 2018 oleh Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebutkan dari cerita yang diwariskan turun-temurun, kelenteng ini dibangun oleh seorang tuan tanah keturunan Tionghoa.
Baca juga: 5 Ornamen Imlek untuk Meriahkan Suasana Rumah
Buku tersebut juga menerangkan bahwa usia kelenteng itu diprediksi mencapai lebih dari dua ratus tahun. Kelenteng itu dibangun pada abad ke-19. Mulanya, bangunan ini terbuat dari kayu dan sudah mengalami tiga kali renovasi, yakni pada 1894, 1925, dan 1973, dengan tetap dipertahankan bentuk seperti aslinya.

Di masa kolonialisme fisik, kelenteng tersebut disebutkan kerap menjadi tempat persembunyian atau perlindungan paling aman bagi para pejuang kemerdekaan di wilayah Palmerah. Konon penjajah pun sungkan untuk masuk dan berbuat onar di sini.
Baca juga: Catat Tanggalnya, Ini Daftar Libur Nasional dan Cuti Bersama 2023
Keunikan kelenteng tertua di Jakarta ini yaitu terdapat tempat perabuan dan papan nama dari Mbah Raden Surya Kencana atau Pangeran Surya Kencana dan Eyang Yugo Thay Losu Imam Sujono Dji Lo Su atau Thay Dji Losu yang terdapat di sisi kanan dan kiri ruangan utama.
Pangeran Surya Kencana bernama lengkap Raden Suryakencana Winata Mangkubumi. Beliau merupakan seorang putra dari Pangeran Aria Wiratanudatar, pendiri kota Cianjur, dan dikabarkan memiliki istri yang merupakan putri dari bangsa jin. Sedangkan Eyang Yugo Thay Losu Imam Sujono Dji Lo Su atau Thay Dji Losu diyakini sebagai salah seorang pengikut Pangeran Diponegoro.
Selain wisata sejarah di Indonesia, berbagai destinasi dunia ternyata menyimpan banyak cerita menarik dan fakta mencengangkan yang pastinya menjadi sumber pengetahuan. Tunggu updatenya di Mediago.id




