SDH Lippo Harapan Sekolah Dian Harapan Display Ad
Wednesday, February 11, 2026
spot_imgspot_img
HomeGaya HidupJepang Catat Rekor Hampir 100.000 Warga Berusia 100 Tahun ke Atas

Jepang Catat Rekor Hampir 100.000 Warga Berusia 100 Tahun ke Atas

Jepang kembali menorehkan pencapaian luar biasa dalam hal angka harapan hidup. Pemerintah Jepang mengumumkan bahwa jumlah warganya yang telah mencapai usia 100 tahun atau lebih kini mendekati 100.000 orang. Data terbaru yang dirilis Kementerian Kesehatan pada Jumat mencatat, hingga September 2025, ada 99.763 centenarian atau penduduk berusia seratus tahun ke atas di Negeri Sakura.

Pencapaian ini menandai tahun ke-55 berturut-turut jumlah warga berusia seratus tahun terus mencetak rekor baru. Menariknya, sekitar 88 persen dari total tersebut adalah perempuan, sebuah tren yang konsisten terjadi dalam beberapa dekade terakhir.

Jepang – Negara dengan Harapan Hidup Panjang

jepang

Jepang memang dikenal sebagai salah satu negara dengan angka harapan hidup tertinggi di dunia. Pola makan tradisional yang relatif sehat, kaya akan sayuran, ikan, dan rendah lemak jenuh, disebut-sebut menjadi salah satu kunci umur panjang masyarakat Jepang. Selain itu, gaya hidup aktif, budaya disiplin, serta dukungan sistem kesehatan universal turut berperan penting.

Tak heran, negara matahari terbit ini sering menjadi rumah bagi orang-orang tertua di dunia. Meski begitu, beberapa penelitian masih memperdebatkan jumlah pasti centenarian secara global, lantaran adanya perbedaan metode pencatatan di tiap negara. Namun, fakta bahwa Jepang terus konsisten menambah daftar orang berusia seratus tahun jelas memperlihatkan tren demografi yang unik.

Tokoh Tertua di Negeri Sakura

Dalam pengumuman tersebut, Kementerian Kesehatan juga menyebutkan nama dua tokoh lansia yang kini menjadi sorotan. Shigeko Kagawa, seorang perempuan berusia 114 tahun dari Yamatokoriyama, pinggiran kota Nara, tercatat sebagai orang tertua di Jepang saat ini.

Sementara itu, gelar pria tertua dipegang oleh Kiyotaka Mizuno, seorang warga berusia 111 tahun dari kota pesisir Iwata. Kehadiran mereka menjadi simbol hidup dari fenomena umur panjang yang terus mewarnai masyarakat negara ini.

Apresiasi dari Pemerintah

Menteri Kesehatan, Takamaro Fukoka, menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh warga yang berhasil mencapai usia seratus tahun. Ia mengucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada 87.784 perempuan dan 11.979 laki-laki centenarian atas kontribusi mereka bagi pembangunan masyarakat selama ini.

Ucapan selamat itu juga bertepatan dengan peringatan Hari Lansia (Respect for the Aged Day) yang jatuh setiap 15 September. Pada momen ini, para centenarian biasanya menerima surat ucapan resmi dari Perdana Menteri Jepang, disertai dengan hadiah simbolis berupa piala perak. Tahun ini, menurut data Kementerian Kesehatan, sebanyak 52.310 orang memenuhi syarat untuk mendapatkan penghormatan tersebut.

Dari 153 Orang Jadi Hampir 100.000

Jika menilik ke belakang, pencapaian Jepang saat ini terasa begitu luar biasa. Pada tahun 1963, saat pemerintah pertama kali melakukan survei resmi terkait centenarian, hanya ada 153 orang yang tercatat berusia seratus tahun atau lebih.

Seiring berjalannya waktu, angka tersebut terus melonjak drastis. Pada 1981, jumlahnya menembus angka 1.000 orang. Menjelang akhir abad ke-20, tepatnya pada 1998, populasi centenarian di negara ini bahkan sudah mencapai 10.000 orang. Kini, lebih dari dua dekade kemudian, jumlah itu berlipat hampir sepuluh kali lipat, mendekati 100.000 orang.

Perubahan ini memperlihatkan betapa cepatnya tingkat penuaan di Jepang, menjadikannya salah satu negara dengan masyarakat paling tua di dunia.

Antara Kebanggaan dan Tantangan

jepang

Lonjakan jumlah warga berusia lanjut jelas menjadi kebanggaan tersendiri bagi Jepang. Di satu sisi, hal ini menunjukkan kualitas kesehatan dan standar hidup yang tinggi. Banyak orang di seluruh dunia bahkan mengagumi gaya hidup yang dinilai sehat dan seimbang.

Namun, di sisi lain, fenomena ini juga menghadirkan tantangan besar bagi pemerintah. Dengan semakin banyaknya warga lanjut usia, beban pada sistem pensiun, layanan kesehatan, serta tenaga kerja menjadi semakin berat. Tingkat kelahiran yang rendah di Jepang juga memperparah kondisi, sehingga proporsi generasi muda yang bisa menopang sistem semakin mengecil.

Para ahli demografi menilai, Jepang perlu menemukan solusi jangka panjang untuk menjaga keseimbangan masyarakatnya. Beberapa langkah yang sudah ditempuh antara lain mendorong partisipasi tenaga kerja perempuan, memperpanjang usia pensiun, serta meningkatkan teknologi dalam bidang perawatan lansia.

Fenomena centenarian Jepang bukan hanya menjadi isu domestik, tetapi juga menarik perhatian dunia internasional. Banyak negara yang kini mulai mempelajari pola makan, gaya hidup, serta sistem kesehatan negeri Sakura sebagai inspirasi dalam meningkatkan angka harapan hidup penduduk mereka.

Faktor sosial juga dianggap berperan penting. Dalam budaya Jepang, lansia dihormati dan dianggap sebagai sumber kebijaksanaan. Hubungan keluarga dan komunitas yang erat dipercaya memberi dukungan emosional yang membantu kualitas hidup para orang tua.

Dengan jumlah hampir 100.000 orang berusia seratus tahun atau lebih, Jepang sekali lagi membuktikan diri sebagai negara dengan tingkat umur panjang yang luar biasa. Dari hanya 153 orang pada awal 1960-an hingga kini mendekati angka enam digit, perkembangan ini menunjukkan transformasi besar dalam demografi Jepang.

CopyAMP code
Fajria Anindya Utami
Fajria Anindya Utami
A passionate content writer who has eagerly enhance her skill everyday. And a journalist background with strong economic experience.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisment -spot_img
spot_img

Most Popular

spot_img