Batagor adalah salah satu camilan khas Indonesia yang kini tengah menjadi sorotan dunia. Berawal dari Bandung, camilan sederhana ini tidak hanya berfungsi sebagai pengganjal perut, tetapi juga mencerminkan kreativitas kuliner masyarakat Indonesia. Seperti halnya negara lain yang memiliki camilan istimewa masing-masing, dari Asia hingga Afrika, Eropa hingga Amerika, batagor berhasil memikat lidah siapa saja yang mencobanya. Popularitasnya semakin melambung setelah dinobatkan sebagai salah satu camilan terenak di dunia versi Taste Atlas, sekaligus mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Batagor Masuk 5 Besar Camilan Terenak Dunia

Taste Atlas, ensiklopedia makanan berbasis di Eropa yang sering merilis daftar makanan terbaik dunia, kembali mengumumkan 100 camilan terlezat tahun 2025. Dalam daftar tersebut, batagor berhasil menempati peringkat kelima, dengan skor mengesankan 4,6 dari 5 bintang.
Tak hanya itu, Taste Atlas juga menyoroti Batagor Kingsley di Bandung sebagai salah satu penjual batagor ikonik yang patut dicoba wisatawan. Bagi banyak orang, kabar ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Bagaimana tidak, camilan sederhana yang kerap dijual di gerobak pinggir jalan kini bisa disejajarkan dengan kuliner kelas dunia lainnya.
Asal Usul: Dari Inovasi Hingga Jadi Ikon Bandung

Sejarah batagor berawal pada tahun 1970-an, diciptakan oleh seorang pedagang bernama Abas di Bandung. Terinspirasi dari siomay ala Tiongkok, Abas kemudian memodifikasi hidangan tersebut dengan cita rasa lokal. Ia menggunakan tahu sebagai isian, lalu menggorengnya hingga renyah. Dari sanalah lahir istilah batagor, yang merupakan singkatan dari baso tahu goreng.
Seiring waktu, batagor berkembang menjadi kuliner khas Bandung yang digemari banyak orang. Camilan ini biasanya dibuat dari adonan ikan atau daging giling yang dipadukan dengan tahu, kemudian dibalut kulit pangsit, dan digoreng hingga keemasan. Tidak lengkap rasanya jika menyantap batagor tanpa saus kacang gurih-manis yang menjadi ciri khasnya.
Keistimewaan batagor terletak pada kombinasi tekstur dan rasa. Tahu goreng yang renyah berpadu dengan isian bakso ikan atau ayam yang kenyal, kemudian disiram saus kacang yang gurih, sedikit manis, dan kadang diberi perasan jeruk limau untuk menambah kesegaran. Beberapa orang juga menambahkan sambal pedas atau kecap manis sesuai selera.
Bagi yang pernah mencicipinya, sensasi menggigit batagor hangat dengan saus kacang melimpah sulit untuk dilupakan. Tak heran, popularitas batagor bisa menyaingi siomay, meski sama-sama berasal dari olahan daging cincang dan tahu.
Batagor di Mata Dunia
Masuknya batagor dalam daftar Taste Atlas bukan sekadar penghargaan, tetapi juga bukti bahwa kuliner Indonesia semakin mendapat pengakuan global. Selama ini, dunia lebih mengenal makanan Indonesia seperti rendang, sate, atau nasi goreng. Kini, batagor ikut bersinar dan menambah daftar panjang kuliner Nusantara yang mendunia.
Menariknya, keberhasilan ini juga membuka peluang wisata kuliner. Banyak turis asing yang berkunjung ke Bandung mulai memasukkan batagor sebagai salah satu kuliner wajib coba. Dengan begitu, batagor tidak hanya sekadar camilan, tetapi juga menjadi daya tarik budaya yang memperkaya pariwisata Indonesia.
Camilan Lain yang Masuk Daftar Taste Atlas 2025

Selain batagor, beberapa camilan dari negara lain juga berhasil masuk daftar camilan terbaik dunia versi Taste Atlas tahun 2025. Beberapa di antaranya bahkan menempati posisi lebih tinggi dari batagor.
- Karantika (Algeria)
Menempati posisi pertama, Karantika merupakan camilan tradisional Aljazair berbahan dasar tepung chickpea (kacang garbanzo). Adonannya dicampur air, minyak, garam, merica, dan telur, lalu dipanggang hingga berkerak keemasan di bagian atas. Rasanya gurih lembut dengan lapisan renyah di luar. - Kuotie (China)
Di posisi kedua ada kuotie, camilan populer dari Tiongkok. Dibuat dari kulit pangsit tipis berisi daging cincang (babi, ayam, sapi, atau udang) yang dicampur daun bawang, jahe, rice wine, dan minyak wijen. Kuotie biasanya dimasak dengan cara dipanggang sekaligus dikukus, sehingga menghasilkan tekstur garing di bawah dan lembut di atas. - Hamamatsu Gyoza (Jepang)
Peringkat ketiga ditempati Hamamatsu Gyoza asal Jepang. Sekilas mirip kuotie, tetapi gyoza ini diisi dengan kubis, bawang bombai, serta daging. Teknik memasaknya unik: pangsit disusun melingkar di wajan hingga kulitnya renyah, kemudian disajikan dengan kecap asin atau saus khas Jepang. - Roti Canai (Malaysia)
Di posisi keempat ada roti canai, camilan asal Malaysia yang sudah populer di Asia Tenggara. Terbuat dari adonan tepung, air, telur, dan lemak, roti pipih ini biasanya disajikan dengan kari atau topping manis seperti susu kental dan gula. - Batagor (Indonesia)
Peringkat kelima ditempati batagor asal Bandung, yang berhasil mencuri perhatian dunia dengan cita rasa khas Nusantara. - Gyoza (Jepang)
Di posisi keenam ada gyoza klasik khas Jepang. Pangsit berbentuk bulan sabit ini diisi campuran daging cincang dan sayuran seperti kubis, daun bawang, dan bawang putih. Gyoza bisa disajikan dengan tiga cara: digoreng, direbus, atau dipanggang lalu dikukus sebentar.
Kebanggaan Kuliner Nusantara
Pencapaian batagor di Taste Atlas tentu menjadi kebanggaan bagi Indonesia. Camilan sederhana yang berawal dari kreasi seorang pedagang kaki lima kini diakui dunia sebagai salah satu camilan terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa kekayaan kuliner Nusantara tidak kalah dengan negara lain, bahkan bisa bersaing di level internasional.
Ke depan, diharapkan lebih banyak makanan khas Indonesia yang masuk daftar serupa. Mulai dari klepon, pisang goreng, hingga lumpia, semuanya punya potensi besar untuk diperkenalkan ke dunia. Dengan semakin banyaknya kuliner Indonesia yang dikenal global, citra pariwisata Indonesia pun ikut terangkat.
Batagor bukan sekadar camilan pengganjal perut, melainkan simbol kreativitas kuliner Indonesia yang mampu menembus batas budaya dan geografi. Keberhasilannya masuk daftar 5 besar camilan terenak dunia versi Taste Atlas tahun 2025 adalah bukti nyata bahwa hidangan lokal bisa mendunia.
Kini, saat wisatawan datang ke Bandung, batagor telah menjadi bagian penting dari pengalaman kuliner yang tak boleh dilewatkan. Sebuah bukti bahwa dari sepiring camilan sederhana, Indonesia bisa mendapatkan pengakuan besar di panggung dunia.




