Gelombang protes solidaritas dan desakan keadilan bagi Affan Kurniawan dari sejumlah kelompok mahasiswa kembali menggema di depan Gedung DPR RI, Jakarta, pada Senin sore (1/9/2025). Aksi ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap seorang pengemudi ojek online (ojol) yang meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis Brimob beberapa waktu lalu.
Pantauan di lapangan pada pukul 15.32 WIB menunjukkan ratusan mahasiswa mulai berkumpul di Jalan Gatot Subroto, tepat di depan kompleks parlemen. Massa datang dengan mengenakan atribut organisasi, di antaranya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Suasana demonstrasi diwarnai teriakan orasi yang berapi-api, spanduk, serta bendera organisasi, sebagaimana dikutip dari Detik di Jakarta, Senin (1/9/2025).
Menuntut Keadilan untuk Affan

Dalam orasi yang disampaikan dari atas mobil komando, mahasiswa menegaskan bahwa kematian Affan bukanlah sekadar insiden lalu lintas, melainkan tragedi yang mencerminkan lemahnya perlindungan negara terhadap rakyat kecil. Mereka menyerukan agar kasus ini diusut secara tuntas tanpa ada pihak yang kebal hukum.
“Kawan-kawan mahasiswa, apakah sepakat gelar bintang diberikan kepada Affan? Supaya kita tahu mana bangsa ini pengkhianat dan mana pejuang. Affan adalah pejuang, dan negara wajib menjamin kesehatan serta keselamatan kawan-kawan ojol lainnya,” teriak salah satu orator.
Seruan tersebut disambut teriakan setuju dari peserta aksi. Mahasiswa menilai bahwa pengemudi ojol seperti Affan adalah bagian dari tulang punggung ekonomi rakyat, namun hingga kini masih minim perlindungan.
Desakan Perlindungan Sosial untuk Ojol
Selain menuntut pengusutan kasus Affan, massa juga mengangkat isu yang lebih luas: kesejahteraan para pengemudi ojek online. Menurut mereka, jutaan pekerja ojol di Indonesia bekerja tanpa jaminan sosial yang memadai, padahal mereka menjadi salah satu sektor penopang mobilitas masyarakat modern.
“Kalau kesejahteraan kawan-kawan ojol tidak terpenuhi, mereka membutuhkan jaminan sosial yang layak, pendidikan anak-anak mereka yang layak, serta perlindungan hukum yang jelas. Jangan sampai nyawa rakyat kecil seolah murah di mata negara,” lanjut orator.
Isu perlindungan sosial bagi ojol memang sudah lama menjadi perbincangan publik. Banyak dari mereka yang bekerja dengan sistem kemitraan di perusahaan aplikasi transportasi online, namun status ini membuat mereka tidak sepenuhnya terlindungi oleh undang-undang ketenagakerjaan. Akibatnya, jaminan kesehatan, kecelakaan kerja, hingga pensiun sering kali bergantung pada usaha pribadi.
Tak hanya menyoroti kasus Affan dan nasib ojol, mahasiswa juga melayangkan kritik tajam kepada anggota DPR. Mereka menilai adanya ironi ketika rakyat masih berjuang mendapatkan kesejahteraan, sementara para wakil rakyat justru menikmati kenaikan tunjangan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Kita harus bersikap kritis. Di tengah situasi efisiensi anggaran, bagaimana mungkin tunjangan anggota DPR justru naik? Ini penghinaan terhadap rakyat,” ujar salah seorang mahasiswa yang berorasi dengan lantang.
Pernyataan ini menegaskan bahwa demonstrasi tidak hanya fokus pada tragedi yang menimpa Affan, tetapi juga pada ketidakadilan struktural yang dirasakan masyarakat.
Situasi di Lokasi Aksi
Meski massa aksi cukup banyak, situasi lalu lintas di Jalan Gatot Subroto arah Slipi masih relatif terkendali. Jalan tidak sepenuhnya ditutup, sehingga kendaraan pribadi maupun transportasi umum masih dapat melintas dengan kecepatan yang cukup lancar. Aparat keamanan juga tampak berjaga di sekitar lokasi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Beberapa pengguna jalan sempat melambatkan kendaraan mereka untuk melihat jalannya aksi. Sementara itu, mahasiswa terus melanjutkan orasi dengan bergantian, menyuarakan aspirasi mereka melalui pengeras suara.
Peristiwa ini menambah panjang daftar aksi mahasiswa yang menyoroti isu keadilan sosial di Indonesia. Sejak lama, mahasiswa dikenal sebagai kelompok yang vokal terhadap kebijakan pemerintah maupun tragedi kemanusiaan. Mereka sering kali tampil di garda depan ketika melihat ada ketidakadilan yang dialami rakyat kecil.
Kematian Affan Kurniawan sendiri menjadi titik api yang membakar solidaritas berbagai elemen masyarakat. Di media sosial, warganet ramai-ramai menyuarakan tagar #KeadilanUntukAffan dan #OjolBerhakSejahtera, menandakan luasnya dukungan terhadap perjuangan para pengemudi ojek online.
Bagi mahasiswa, perjuangan ini bukan hanya soal keadilan bagi satu individu, tetapi juga tentang bagaimana negara menempatkan martabat rakyat kecil di atas kepentingan kelompok elite.
Tuntutan Mahasiswa

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan menjelang akhir aksi, mahasiswa menyampaikan beberapa poin tuntutan:
- Mengusut tuntas kasus kematian Affan Kurniawan dan menindak tegas siapapun yang terlibat.
- Memberikan perlindungan hukum dan jaminan sosial bagi seluruh pengemudi ojek online di Indonesia.
- Mendesak DPR untuk meninjau ulang kenaikan tunjangan dan lebih memprioritaskan anggaran untuk kesejahteraan rakyat.
- Menuntut pemerintah membuat regulasi yang lebih jelas terkait status kerja dan perlindungan bagi mitra aplikasi transportasi online.
Menjelang sore, aksi masih berlangsung dengan kondusif. Mahasiswa menegaskan bahwa gerakan ini akan terus berlanjut hingga mereka melihat adanya langkah nyata dari aparat penegak hukum dan pemerintah.
“Kita tidak boleh diam. Kalau hari ini Affan, besok bisa siapa saja. Kita harus berdiri bersama rakyat kecil,” tutup salah seorang orator.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa suara mahasiswa dan rakyat kecil tidak boleh diabaikan. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk lebih serius memperhatikan perlindungan sosial, terutama bagi para pekerja informal seperti pengemudi ojek online, yang selama ini menjadi bagian penting dari denyut kehidupan masyarakat Indonesia.




