You are here
Home > Kesehatan >

Orangtua sebagai Tonggak Pemenuhan Gizi Anak

Orangtua sebagai Tonggak Pemenuhan Gizi Anak
Bagikan

MediaGo – Di sekolah, mengawasi konsumsi makanan anak yang mengandung gizi memiliki tantangan tersendiri. Meski telah ada aturan untuk menjual makanan sehat di kantin, serta pengadaan sarana cuci tangan dan materi-materi kampanye untuk hidup bersih, masih banyak anak yang memilih membeli jajanan di luar sekolah.

Makanan warna-warni memang lebih menarik bagi anak-anak bahkan remaja, dan kebiasaan makan makanan seperti ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pihak, yaitu orangtua, sekolah, dan pemerintah setempat.

Pengajar Sekolah Dasar Negeri di Kota Depok Eko Agusnehing Purwaningsih mengingatkan, sekolah tidak dapat bekerja sendirian dalam rangka mendukung proses tumbuh kembang anak yang lebih baik melalui pembiasaan pola makan sehat.

Baca juga: Gizi Mendukung Prestasi, Mitos atau Fakta?

Ketika sekolah sudah berupaya dengan mengamati kebiasaan konsumsi makanan anak di sekolah dan membuat laporan berkala tentang berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala anak, ia berharap orangtua mau bekerja sama apabila laporan yang dihimpun menunjukkan situasi mengkhawatirkan.

“Kami akan memberikan informasi kepada orangtua ketika menemukan anak yang tumbuh kembangnya lambat. Biasanya kami memanggil orangtua atau melakukan kunjungan rumah untuk berdiskusi,” kata eko dalam webinar berjudul Sehat Itu Cerdas: Bangun Kebiasaan Makan Sehat, Yuk! yang digelar oleh GREDU.

Selain itu, Eko menambahkan, strategi dan edukasi mengenai pemenuhan gizi anak juga dapat dipenuhi dengan keterlibatan mitra. Namun, penerapannya akan kembali lagi ke orangtua dan lingkungan keluarga.

Baca juga: Pahami 3 Gaya Belajar Anak Saat Belajar dari Rumah

Dokter Spesialis Anak dr. Dimple Nagrani, Sp.A menegaskan, pola hidup sehat harus dimulai dari orangtua. Anak adalah peniru yang ulung, dan mereka akan meniru pola makan orangtuanya. Apabila orangtua rajin mengonsumsi kudapan, gula, atau makanan berkolesterol tinggi, maka akan sulit mengharapkan anak terbiasa mengonsumsi makanan sehat.

Baca Juga:  BPOM: Lansia 60 Tahun ke Atas Boleh Divaksin Sinovac

Sementara itu, Business Development Manager Lemonilo Liliane Melissa menyarankan, orangtua yang ingin anaknya menyukai makanan sehat seperti buah dan sayur agar memberikan ilustrasi yang mudah dipahami oleh anak-anak. “Anak tidak akan mengerti apabila kita bilang harus makan sayur agar pintar, lebih baik kita beri tahu bahwa sayur itu enak,” saran Anne.


Bagikan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top