You are here
Home > News >

Direstui BPOM, Efikasi Vaksin Corona di Indonesia Beda dengan Turki dan Brasil

Ilustrasi Vaksi Corona Sinovac
Bagikan

MediaGo – Vaksin CoronaVac buatan Sinovac Biotech Ltd telah mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin (11/1/2021). Izin darurat ini diberikan setelah data interin uji klinis III di Bandung, Turki, dan Brasil sudah keluar.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, vaksin CoronaVac telah menunjukan kemampuan dalam pembentukan antibody di dalam tubuh dan juga kemampuan antibodi dalam membunuh atau menetralkan virus (imunogenisitas), yang dilihat dari mulai uji klinis fase satu dan dua di Tiongkok dengan periode pemantauan sampai enam bulan.

“Pada uji klinik fase tiga di Bandung, data imunogenisitas menunjukkan hasil yang baik. Sampai tiga bulan jumlah subjek yang memiliki antibodi masih tinggi yaitu sebesar 99,23 persen,” katanya mengutip dari laman resmi BPOM, Selasa (12/1/2021).

Baca juga: BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Sinovac

Selain itu, hasil analisis terhadap efikasi (khasiat atau kemanjuran) vaksin CoronaVac dari uji klinik di Bandung menunjukkan efikasi vaskin sebesar 65,3 persen dan berdasarkan laporan dari efikasi vaksin di Turki sebesar 91,25 persen, serta Brasil sebesar 78 persen. Hasil tersebut telah memenuhi persayaratan WHO dengan minimal efikasi vaksin adalah 50 persen.

Perbedaan Efikasi Sinovac di Indonesia dengan Turki dan Brasil

Terkait perbedaan data efikasi Sinovac, Ketua Komnas Penilai Obat BPOM Jarir At-Thobari seperti yang dikutip dari laman Kumparan, memiliki penjelasan tersendiri. Ada empat faktor yang mempengaruhi perbedaan data efikasi Sinovac di Brasil dan Turki dengan Indonesia.

Berikut empat faktor tersebut. Pertama dari sisi epidemologi (pergerakan kasus, jumlah tes, dan positivity rate). Kedua, dari perilaku masyarakatnya. Ketiga, proses transmisi dari satu orang ke orang lain (Rt). Keempat, karakter atau subjek penelitian.

Baca Juga:  Ridwan Kamil Kini Punya Kendaraan Dinas Mobil Listrik Hyundai

Jarir menjelaskan, faktor keempat ini menjadi kunci. Sebab, ada perbedaan yang mencolok. Di Turki, hampir 20 persen relawan risiko tinggi, dan 80 persen tenaga kesehatan atau nakes dan ini membuat efikasi lebih tinggi. Sedangkan di Brasil semua tenaga kesehatan.

Baca juga: Target Vaksinasi COVID-19 Hingga Maret 2022

Sementara di Bandung dari 1.600 relawan mayoritas merupakan populasi umum. Namun menurutnya ini menjadi nilai lebih.

“Di Bandung populasi umum, ini baik untuk Indonesia, populasi umum perlindungannya segitu. Kita tidak punya high risk relawan seperti nakes. Tapi untuk nakes kita bisa ambil dari Brasil dan Turki,” kata Jarir.


Bagikan
RAR

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top