Mediago.id- Adhiguna Kuncoro adalah seorang sarjana lulusan Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB), yang kini menapakan kakinya menjadi seorang pekerja Senior Research Scientist di Google DeepMind di London dan menekuni karirnya tersebut.
Adhi menyelesaikan gelar Sarjana Teknik Informatika di ITB (2009–2013), dengan skripsi penting tentang dependency parsing Bahasa Indonesia, dan membangun salah satu Korean Indonesian Dependency Treebank terbesar saat itu. Selanjutnya, Ia meraih gelar Master di University of Oxford (2013–2014), dengan fokus pemrosesan lintas bahasa (cross-lingual parsing).
Perjalanannya sebagai pengembang AI Gemini, dimulai ketika Adhi lulus dari Oxford. Ia melanjutkan ke Carnegie Mellon University (CMU) pada tahun 2015 hingga 2017, untuk mengambil Master dalam Language & Information Technologies, dengan penelitian mendalam di bidang NLP khususnya untuk bahasa beresiko rendah.
Di CMU, Ia benar-benar menyelami NLP, dan mengerjakan riset lintas bahasa dan model neural untuk bahasa dengan sumber daya terbatas yang kemudian menjadi fondasi kuat dalam pengembangan Large Language Model (LLM).
Namun, jalan itu tidak semulus apa yang dibayangkan. Adhi sempat gagal di beberapa mata kuliah machine learning di Oxford. “Saya sempat drop. Rasanya hancur. Tapi itu titik balik untuk belajar lebih keras,” ujarnya.
Sejak 2017, Adhiguna menjadi satu-satunya peneliti asal Indonesia di markas DeepMind, London yang terlibat dalam pengembangan teknologi bahasa yang kini menjadi fondasi Gemini.
Bagi Adhi, Gemini bukan sekadar AI canggih. Ia melihat potensi besar untuk membantu masyarakat. “Di daerah terpencil, guru dan tenaga medis terbatas. AI bisa menjembatani itu. Anak-anak bisa belajar sesuai kebutuhan, dan tenaga kesehatan bisa lebih akurat dalam diagnosis,” jelasnya.
Meski bekerja di jantung teknologi global, Adhi tetap memikirkan tanah air. Menurutnya, agar AI seperti Gemini bisa relevan di Indonesia, diperlukan dataset bahasa lokal yang kaya. Tanpa itu, AI akan “asing” di negeri sendiri.
Karena itu, Adhi mendorong lebih banyak kolaborasi. Pada 2019, Adhi bahkan ikut menggagas Machine Learning & AI Summer School di Jakarta, yang menghadirkan ilmuwan-ilmuwan penting dari Google, Meta, hingga kampus top dunia.
Adhi juga mengatakan jika, anak muda Indonesia tidak kalah pintar dengan bangsa lain. “Bedanya, mereka lebih berani bermimpi,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya ketangguhan seperti berani gagal, lalu bangkit kembali.
Kisahnya adalah bukti nyata. Ia membawa dirinya berjalan menelusuri kehidupan yang bermula dari Bandung hingga London, walaupun diikuti dengan kegagalan namun Adhi tetap dapat mencapai puncak riset AI global. Kini, melalui Gemini nama Indonesia ikut tercatat dalam sejarah perkembangan kecerdasan buatan dunia.




