You are here
Home > Pendidikan >

Guru Harus Menjadi Sahabat, Bukan Hanya Pendidik

Guru Harus Menjadi Sahabat, Bukan Hanya Pendidik
Bagikan

Guru adalah tokoh utama dalam mendidik. Namun, zaman mengalami banyak perubahan. Guru diharapkan tidak hanya berperan sebagai pendidik saja, tetapi juga bisa menjadi sahabat bagi peserta didiknya selama berada di sekolah.

Hal itu disampaikan Lastri Fajarwati dari Keluarga Peduli Pendidikan. Peran guru dalam menciptakan Sekolah Ramah Anak sangat penting. Jika guru sudah memposisikan diri tidak hanya sebagai pendidik, maka kehadirannya akan sangat dirindukan oleh anak-anak. 

“Sekolah Ramah Anak itu harus menghadirkan kondisi dimana anak senang, guru tenang dan orang tua bahagia,” kata Lastri dalam webinar bertema Gembira Mewujudkan Merdeka Belajar dari Rumah Menuju Sekolah Ramah Anak.

Lastri menjelaskan, yang dimaksud anak senang adalah Sekolah Ramah Anak bisa membuat peserta didik merasa senang selama  berada di sekolah. Mereka akan menganggap sekolah menjadi rumah keduanya. Sehingga mereka menikmati belajar seperti mereka menikmati bermain. 

Sedangkan yang dimaksud guru tenang adalah dimana guru bisa dengan tenang memberikan pembelajaran. Perasaan yang tenang ini hadir karena siswa-siswanya dengan riang gembira menerima pembelajaran yang diberikan oleh para guru. 

“Sekolah Ramah Anak akan membuat orangtua bahagia karena mereka merasa anak-anaknya aman selama berada di sekolah dan orang tua yakin anak-anaknya gembera selama di sekolah,” tambah Lastri. 

Apa itu Sekolah Ramah Anak? Sekolah Ramah Anak adalah satuan pendidikan formal, non-formal dan informal yang mampu memberikan pemenuhan hak dan perlindungan khusus bagi anak, termasuk bagiamana mekanisme pengaduan dan penanganan kasus di satuan pendidikan tersebut berada.

Setidaknya ada lima prinsip hak-hak anak di Sekolah Ramah Anak. Pertama, non-diskriminasi. Sekolah harus memperlakukan sama kepada seluruh siswa saat berada di sekolah. Kedua, kepentingan terbaik anak. Prinsip ini menegaskan bahwa  apa pun kebijakan di sekolah mulai dari perencanaan sampai evaluasi adalah untuk kepentingan terbaik anak. 

Baca Juga:  SGU dan BI Jalin Kerja Sama Program Kampus Merdeka Bank Indonesia

Ketiga, kelangsungan hidup dan perkembangan. Pada prinsipsi ini bagaimana  sekolah mampu menjamin keberlangsungan hidup selama di sekolah aman. Keempat, penghormatan terhadap pandangan anak. Pada prinsip ini bagaimana sekolah mampu menghargai pendapat anak mulai dari menetapkan aturan, tata tertib atau kebijakan lainnya.

“Kelima, pengelolaan yang baik. Prinsip ini adalah bagaimana sekolah mampu  menciptakan lingkungan yang aman, bagaimana kolaborasi antara orang tua, guru dan anak.  Ini perlu pengelolaan yang baik,” ucap Lastri. 


Bagikan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top