You are here
Home > Pendidikan >

Kurikulum 2013, Keunikan Anak di Kelas Bukan Masalah

Kurikulum 2013, Keunikan Anak di Kelas Bukan Masalah
Bagikan

MediaGo – Kurikulum 2013 atau Kurtilas merupakan kurikulum yang berpusat pada anak. Namun sayangnya, banyak orangtua bahkan guru yang tidak memahaminya. Keunikan anak anak di kelas kerap malah menimbulkan kebingungan bagi guru dan orangtua.

Guru dan orangtua harus memahami bahwa setiap orang memiliki identitas dan karakteristiknya masing-masing, termasuk dalam aspek gaya belajar. Sedikitnya, terdapat empat pilihan gaya belajar yang melekat pada diri seseorang, yaitu visual, auditory, reading/writing, dan kinesthetic atau biasa disingkat VARK.

Konsep ini dikemukakan oleh Neil Fleming dan Coleen E. Mills pada tahun 1992. Seseorang memiliki kecenderungan untuk mengadopsi salah satu gaya belajar yang dominan, tapi bisa saja seseorang menggunakan seluruh gaya belajar secara campuran.

Baca juga: Pahami 3 Gaya Belajar Anak Saat Belajar Dari Rumah

Mengetahui gaya belajar yang ideal merupakan hal penting dalam rangka mengembangkan diri, terutama pada saat usia sekolah. Walau begitu, ternyata banyak dari pelajar yang mengalami burnout atau stress akademik. Salah satu penyebabnya adalah adanya perbedaan antara gaya belajar yang ia miliki dengan gaya mengajar guru-gurunya di kelas.

Dalam webinar berjudul, “Cara Mengajar vs Cara Belajar, Mana yang Didahulukan?” yang diselenggarakan oleh GREDU terungkap, cara belajar murid yang berbeda-beda, memang menjadi tantangan tersendiri untuk guru.

3 Gaya Belajar Anak Saat Belajar dari Rumah 1
Setiap anak punya keunikan dalam gaya belajar (Foto: freepik)

Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI) DKI Jakarta Iwan Ridwan mengatakan, gurulah harus mampu beradaptasi dengan berbagai cara belajar murid. Guru dapat mengakomodasi cara belajar murid yang beragam itu dengan menampilkan cara mengajar yang beragam pula.

“Di kelas, bisa saja guru menerangkan lebih dahulu, lalu meminta murid membaca dan membuat catatan, lalu memberikan tugas kelompok di mana mereka saling berdiskusi, membuat karya, atau penelitian, sehingga murid-murid dapat memahami pelajaran dengan caranya masing-masing,” tutur Iwan.

Baca Juga:  BIN Gelar Sosialisasi Adaptasi Kebiasaan Baru di Sekolah

Selain itu, Iwan mengingatkan bahwa kesenangan anak dalam menghadapi pembelajaran merupakan hal utama yang harus ditumbuhkan oleh para guru. Sebab, itu adalah kunci agar proses pembelajaran berjalan secara efektif.

Baca juga: 9 Pro-Kontra Belajar Dari Rumah Selama Masa Pandemi

Dara Nasution yang kini sedang menempuh pendidikan Master of Public Policy di Blavatnik School of Government, Oxford University mengungkapkan pengalamannya menempuh pendidikan di Pematangsiantar sejak sekolah dasar hingga menengah atas.

Dara mengatakan, saat itu ia sempat menghadapi berbagai kendala; mulai dari ritme belajar yang berbeda dari guru dan teman-temannya, infrastruktur atau fasilitas yang kurang memadai, hingga budaya yang cenderung menghambat perkembangannya. Namun, Dara tidak patah semangat karena ia miliki tujuan yang lebih besar dibandingkan dengan kendala yang ia hadapi.

 “Aku suka banget baca karena melihat orangtuaku gemar membaca. Aku dibiarkan membaca berbagai macam buku selama sejalan dengan usia, terlepas dari keadaan yang cukup terbatas saat itu. Ketika aku merasa kesulitan atau mengeluh, orang tuaku juga selalu memberikan dukungan dengan kata-kata dan caranya sendiri,” cerita Dara.

Pendiri Komunitas Queenrides Iim Fahima Jachja sepakat dengan Dara bahwa orangtua sebagai role model. Iim menjelaskan, Peran orang tua adalah mengarahkan mereka agar sampai pada target tersebut dan mendorong anak untuk selalu berproses. “Ketika anak mempelajari sesuatu yang disukainya, semangatnya pasti tidak habis-habis. Namun, jangan lupa untuk membuat target-target yang perlu dicapai untuk menumbuhkan rasa bertanggung jawab,” kata Iim.


Bagikan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top