Sejak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi membagikan momen sidak ke Subang dan menemukan fakta bahwa ternyata air AQUA sumur bor yang selama ini dikonsumsi masyarakat. Fakta tersebut mengejutkan gubernur yang disapa Kang Dedi tersebut.
Momen yang dibagikan Kang Dedi melalui akun YouTube pribadinya dengan judul SIDAK KE PERUSAHAAN AIR MINERAL | TERNYATA SUMBER AIRNYA DARI BAWAH TANAH yang dipublikasikan di tanggal 21 Oktober 2025, cukup menggembparkan masyarakat.
Masyarakat merasa dibohongi sebab kenyataan bahwa air AQUA sumur bor yang selama ini dikonsumsi masyarakat. Benarkah demikian?
Menteri LH : Banyak Produsen Air Menggunakan Air Tanah sekalipun Klaimnya Air Pegunungan
Dibalik respons Dedi Mulyadi yang terkejut akan faktar air AQUA sumur bor, justru Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq secara terus terang mengatakan kalau selama ini produk air minum yang dipasarkan di Indonesia berasal dari air tanah bukan dari air pegunungan.
Dikutip dari berbagai media, ketika menemui Menteri Lingkungan Hidup di acara Mindialogue CNBC Indonesia di hari Minggu (25/10), Hanif mengungkapkan kalau belum ada satu pun produk air minum dalam kemasan (AMDK) yang menggunakan air permukaan secara sustainable.
Oleh sebab itu, Hanif mengingatkan masyarakat supaya tidak mudah terkecoh dengan label AMDK yang menuliskan air pegunungan di kemasannya.
Menteri ESDM : Sebagian Besar Perusahaan Air Mineral di Indonesia Menggunakan Air Tanah
Fakta air AQUA sumur bor ini turut mendesak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk memberikan tanggapan. Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung saat ditemui CNBC Indonesia di kantornya (27/10) membenarkan bahwa ada banyak perusahaan air mineral di Indonesia yang menggunakan air tanah bukan air permukaan.
Menurut datanya, per 17 Oktober 2025 Kementerian ESDM sudah menerbitkan 4.700 izin pengusahaan air tanah di seluruh Indonesia. Dari izin-izin yang sudah diterbitkan, beberapa di dalamnya ada banyak perusahaan air minum kemasan.
Aktivitas pengambilan air tanah ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri ESDM No. 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Izin Pengusahaan Air Tanah dan Persetujuan Air Tanah.
Proses penerbitan izin tersebut melalui proses kajian dan evaluasi teknis panjang, khususnya terhadap lingkungan sekitar. Bila ditemukan adanya pelanggaran, maka pihaknya akan meminta perusahaan untuk menyesuaikan. Kalau ternyata harus dihentikan pun kementerian akan mencabut izin tersebut.
Penjelasan AQUA Mengenai Sumber Air dari Sumur Bor
Imbas video sidak air AQUA sumur bor yang dilakukan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi bisa dibilang cukup menggemparkan dan menghebohkan media sosial. Tak perlu waktu lama, AQUA melalui situs resminya sehataqua.co.id memberikan penjelasan dan faktanya.
Darimanakah Sumber Air AQUA Sumur Bor?
Sumber air AQUA hanya berasal dari akuifer dalam dengan kedalaman 60 sampai 140 meter. Jadi, salah bila menyebutkan kalau sumber air AQUA berasal dari air permukaan atau air tanah dangkal.
Mengutip dari Oregon State University, akuifer adalah lapisan tanah atau bebatuan jenuh beruang yang memungkinkan air bisa mengalir melintasinya. Akuifer termasuk sumber air krusial yang berasal dari proses peresapan air hujan di dalam tanah. Air ini bisa memenuhi kebutuhan manusia sebagai mata air atau melalui sumur.
Material akuifer ini secara alami sudah terlindungi dengan adanya lapisan kedap air. Dampaknya air yang terkandung di dalamnya terbebas dari potensi kontaminasi aktivitas manusia serta tidak akan mengganggu kebutuhan air masyarakat sekitar.
Dalam pernyataan resminya tersebut juga AQUA menegaskan kalau Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Padjajaran (UNPAD) telah melalukan hasil studi hidrogeologi dan mengonfirmasi kalau sumber air yang digunakan AQUA tidak bersentuhan dengan air yang dikonsumsi atau digunakan masyarakat sekitar.
Produksi Air AQUA Terstandarisasi dan Higienis
Saat ini AQUA memiliki 19 sumber air pegunungan yang berada di seluruh wilayah di Indonesia. Dalam menentukan titik-titik sumber tersebut, AQUA melakukan berbagai serangkaian prosedur lengkap dengan menetapkan sembilan kriteria ilmiah, lima tahapan evaluasi dan proses penelitian minimal satu tahun.
Bersama tim ahli yang berasal dari UGM dan UNPAD, AQUA melakukan kajian ilmiah terhadap kualitas dan sumber air tersebut. Adapun manfaat dan dampak yang akan dirasakan masyarakat yang mengonsumsinya juga dampak bagi lingkungan.
Sementara itu, proses produksinya dilakukan melalui sistem pengemasan otomatis tanpa tersentuh tangan manusia. Adapun proses produksi tersebut mencakup:
- Air yang mengalir dari titik sumber air melalui pipa stainless food-grade dengan tingkat ketebalan yang optimal.
- Proses pengolahan air menggunakan mesin berteknologi tinggi.
- Proses pengujian menggunakan standarisasi lebih dari 400 parameter fisika, kimia, dan mikrobiologi.
- Memenuhi standarisasi pangan yang ditetapkan BPOM dan SNI.
Di akhir penjelasannya tentang fakta air AQUA sumur bor tersebut, AQUA berkomitmen untuk terus menjaga kualitas dan kuantitas air yang diproduksinya. Salah satu caranya dengan melakukan program konservasi sumber daya air berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) di berbagai wilayah di sumber air.
Dalam kasus ini di Subang, AQUA sudah melakukan penanaman pohon lebih dari 250 ribu pohon, membangun area resapan lebih dari 120 sumur resapan dan 2.800 rorak. Di samping itu, AQUA juga menjalankan program pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Apakah memang sangat berbahaya mengonsumsi air tanah? Temukan informasinya pentingnya melalui artikel 10 Dampak Konsumsi Air Tanah, Benarkah Berbahaya?





