You are here
Home > News >

5 Aturan Ramadan di Tengah Pandemi Covid-19

Bagikan

Saat ini kita telah memasuki bulan suci ramadan, dan ternyata tahun ini masih sama seperti tahun lalu, yang mana kita harus menjalankan puasa di tengah masa pandemi. Karena itu, kini pemerintah telah menetapkan serangkai aturan Ramadan di tengah pandemi covid 19.

Demi menyesuaikan keadaan beribadah di tengah masa pandemi, kini pihak Kementerian Agama telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2021 yang berisi serangkai aturan terbaru pelaksanaan ibadah di bulan suci Ramadan dalam keadaan pandemi. Edaran tersebut dikeluarkan oleh Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas pada 8 April 2021.

Rangkuman Aturan Ramdhan Ditengah Pandemi
Ada beragam aturan Ramadan di tengah pandemi Covid-19.

Rangkuman Aturan Ramadan

Pada artikel kali ini, kami telah membuat rangkuman aturan Ramadan di tengah pandemi untuk memudahkan umat muslim menjalankan ibadah puasa ramadhan 1442 Hijriah. Inilah rangkumannya sebagai berikut :

1. Boleh Melaksanakan Tarawih di Masjid

1. Boleh Melaksanakan Tarawih di Masjid
Memperbolehkan pelaksanaan salat tarawih di masjid.

Berbeda dengan tahun lalu, ketika virus corona awal masuk ke Indonesia dan pemerintah memberikan larangan bagi warga untuk melaksanakan sholat tarawih di masjid, tahun ini pemerintah memperbolehkan adanya salat tarawih berjamaah di masjid.

Akan tetapi, masjid tetap harus menjalankan segala protokol kesehatan yang telah ditetapkan dengan ketat. Selain itu, jamaah dari salat tarawih maupun Idulfitri harus merupakan warga sekitar masjid, atau tempat dilaksanakannya salat.

Baca juga: 5 Tips Menjalankan Puasa Ramadan Bagi Ibu Hamil Agar Tetap Sehat

Dalam surat edaran yang sama, pihak pemerintah menegaskan bahwa segala kegiatan ibadah di bulan Ramadan, seperti tarawih, salat witir, maupun tadarus, tidak boleh dilaksanakan di daerah yang terdeteksi sebagai zona merah maupun oranye penyebaran virus Covid-19.

2. Diimbau Melaksanakan Buka Puasa di Rumah

Dihimbau Laksanakan Buka Puasa di Rumah
Diimbau melaksanakan buka puasa di rumah.

Untuk kegiatan buka bersama pihak pemerintah masih menghimbau agar pelaksanaannya di rumah saja, dan dilakukan hanya dengan keluarga intim atau penghuni rumah tersebut. Hal ini guna mencegah penularan virus Covid yang masih merajalela di Indonesia.

Baca Juga:  5 Resep Olahan Selai Kacang untuk Menu Buka Puasa

Namun, ada sedikit relaksasi dari pihak pemerintah untuk masalah buka bersama. Dalam aturan Ramadan di tengah pandemi, diizinkan melakukan bukber asalkan ruangan hanya diisi sebanyak 50 persen dari total kapasitas aslinya.  Selain itu, dihimbau pula untuk tidak menyebabkan kerumunan.

3. Tidak Boleh Melakukan Kegiatan Sahur on the Road

Sahur on the road
Melarang kegiatan sahur on the road (SOTR).

Pada Ramadan 1442 Hijriah, kegiatan sahur on the road yang lazim dilakukan oleh beberapa masyarakat, kini dengan tegas telah dilarang oleh pihak berwenang. Aturan larangan ini dikeluarkan oleh Polda Metro Jaya, melalui pernyataan langsung yang disampaikan oleh Kombes. Pol. Yusri Yunus selaku Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya. Larangan ini bertujuan untuk mengurangi terjadinya kerumunan yang memicu transmisi Covid-19.

Baca juga: Kenapa Pengeluaran Ramadan Lebih Boros?

4. Salat Berjamaah dan Kegiatan Nuzulul Quran di Masjid hanya Boleh 50 Persen dari Kapasitas

Sholat Berjamaah dan Kegiatan Nuzulul Quran di Masjid Hanya Boleh sebanyak 50 Dari Kapasitas
Kegiatan di masjid hanya dibolehkan 50 persen dari kapasitas masjid.

Telah diputuskan bahwa semua kegiatan ibadah yang dilakukan di masjid selama masa pandemi ini, baik salat tarawih, witir, tadarus, maupun kegiatan lain di Nuzulul Quran nanti, hanya boleh dilakukan oleh masyarakat dengan mengisi kapasitas masjid sebanyak 50 persen saja. Tidak hanya itu, jamaah juga dihimbau untuk tetap menjalankan segala macam protokol kesehatan dengan ketat, membawa mukena dan sajadah masing-masing.

5. Tes Swab Diperbolehkan Selama Puasa

Tes swab
Tes Swab diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa.

Banyak yang bertanya-tanya tentang hukum melakukan tes swab ditengah bulan Ramadan seperti saat ini. Menanggapi kebingungan tersebut, pihak Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, telah menetapkan bahwa hukum rapid test antigen dan PCR diperbolehkan karena tidak membatalkan puasa.

Pihak MUI menjelaskan bahwa test swab dilakukan dengan cara mengambil sample pada naofaring dan saluran antara mulut serta tenggorokan, hal ini dinilai tidak akan menyebabkan cairan masuk ataupun muntah. Selain itu, alat yang digunakan untuk melakukan tes juga merupakan benda padat, sehingga tidak mungkin menyebabkan cairan masuk. Karena itu, aturan Ramadan di tengah pandemi, masih memperbolehkan masyarakat melakukan swab di siang hari.

Baca Juga:  PSBB Jawa Bali, Pemkot Tangsel Susun Rencana Tekan Kasus COVID-19

Bagikan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top