You are here
Home > News >

Kisah Pramugari Asal Tangsel yang Jadi Korban Pesawat Sriwijaya Air SJY182

Pramugari-Korban-Sriwijaya-Air
Bagikan

MediaGo – Pramugari NAM Air, Isti Yudha Prastika menjadi korban pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJY182 rute Jakarta-Pontianak yang jatuh di Kepulauan Seribu, tepatnya di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang pada Sabtu (9/1/2021) sore.

Kabar Isti menjadi korban Sriwijaya Air SJY182, membuat keluarga terpukul. Seluruh keluarga Isti terus mencari tahu, apakah Isti ikut dalam penerbangan tersebut atau tidak. Takdir berkata lain, Isti ternyata ikut dalam perjalanan tersebut.

Dikediaman orangtua Isti di Perumahan Reni Jaya, Jalan Sumatra 9, Blok K3/11, Kelurahan Pondok Benda, Pamulang, Tangerang Selatan (Tangsel) pun, seluruh keluarga sudah berkumpul untuk mendoakan agar Isti segera ditemukan.

Baca juga: Fatwa MUI: Vaksin Sinovac Suci Dan Halal

Kakak kandung Isti, Irfan Defrizon (37) hanya berharap adik bontotnya bisa ditemukan secepatnya dan bisa dikebumikan secara layak.

“Kalau selamat ya, wallahu’alam, saya berharap jasadnya ditemukan biar bisa nyekar, bisa ngeliat kuburannya, bisa jengukin kalau suatu waktu bisa ziarah. Jangan sampai enggak ditemukan jasadnya, kalau masalah selamat sih sudah pasrah lah, ikhlaskan saja,” ungkap Irfan kepada MediaGo.

Irfan pertama kali mendengar berita adanya pesawat Sriwijaya Air jatuh, hanya berharap itu bukan adiknya yang sedang bertugas. Namun, menjelang Magrib, telepon genggamnya berdering ada panggilan masuk dari kakak pertamanya yang mengabarkan jika Isti berada di pesawat tersebut.

“Abis bangun tidur siang, bangun ngeliat berita Sriwijaya Air hilang dan lepas kontak, saya langsung kepikiran adik saya saja, mudah-mudahan bukan adik saya yang di dalam. Ternyata sekitar jam 5 sore, abang saya ngabarin bahwa adik saya ada di dalam Sriwijaya yang jatuh dikasih tahu dari suaminya,” paparnya.

Baca Juga:  Ini Daftar UMP 2021 di 34 Provinsi

Baca juga: PSBB Ketat Jawa-Bali, Pemkot Tangsel Susun Rencana Tekan Kasus COVID-19

Mendengar kabar itu, orangtua dan sang kakak langsung menghubungi telepon genggam milik Isti dengan harapan anak ketiga dari tiga bersaudara itu bukan menjadi korban.

“Langsung ditelpon, enggak bisa. Kita berdoa aja, semoga bukan Isti di dalam pesawat. Ternyata abang saya sampai sekitar Maghrib ngabarin ke orangtua, kita berdoa saja semoga selamat. Tunggu sampai malam, enggak ada berita, yaudah ikhlaskan saja yang penting jasadnya diketemukan. Harapanya itu aja,” harap Irfan yang tak kuasa menahan tangis membayangkan adik bontotnya.

Dari penuturan keluarga, orangtua Isti sedang menuju Bandara Soekarno Hatta untuk disambil sampe DNA, yang nantinya akan dicocokan oleh tim DVI Mabes Polri.


Bagikan
Dia

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top