You are here
Home > News >

Pekan Raya Jakarta dari Masa ke Masa

Pekan Raya Jakarta dari Masa ke Masa

MediaGo – Setelah pada 2020 dan 2021 absen karena tingginya kasus pandemi COVID-19, Pekan Raya Jakarta (PRJ)atau sekarang dikenal Jakarta Fair Kemayoran kembali digelar pada tahun ini. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah membuka PRJ di kawasan JIExpo, Kemayoran Jakarta pada Kamis 9 Juni 2022.

Jakarta Fair Kemayoran 2022 diharapkan dapat mendorong kembali perekonomian DKI Jakarta setelah sebelumnya sempat melambat karena dampak pandemi. Sebelumnya, tercatat jumlah pengunjung Jakarta Fair Kemayoran 2019 mencapai 6,8 juta orang dengan nilai transaksinya Rp7,5 triliun.

Baca juga: 10 Tempat Wisata Sejarah Indonesia Di Jakarta Yang Wajib Dikunjungi

Diharapkan pada Jakarta Fair Kemayoran 2022, nilai transaksi itu dapat dilampaui. Sebanyak 103 booth ikut  meramaikan anjungan Pemprov DKI Jakarta, dalam pagelaran Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2022 di Hall C1 Jakarta International Expo (JIEXPO). Jumlah ini meliputi 76 UMKM, 14 OPD dan 13 BUMD.

Tradisi yang sudah berjalan sekitar 53 tahun ini menghadirkan pameran brand internasional, bazar UMKM, wisata kuliner khas Jakarta, hiburan anak, hingga konser musik. Memang PRJ dari zaman ke zaman terus mengalami perubahan yang modern. Berbada dengan pada saat awal pertama kali digelar.

Gagasan Pekan Raya Jakarta

Pemandangan pintu masuk Pekan Raya Jakarta dilihat dari Monumen Kemerdekaan di Lapangan Merdeka 1981
Pemandangan pintu masuk Pekan Raya Jakarta dilihat dari Monumen Kemerdekaan di Lapangan Merdeka 1981.

Dikutip dari situs Suku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Administrasi, Pekan Raya Jakarta (PRJ) digelar pertama kali di Kawasan Monas tanggal 5 Juni hingga 20 Juli tahun 1968 dan dibuka oleh Presiden Soeharto dengan melepas merpati pos. 

PRJ pertama ini disebut DF yang merupakan singkatan dari Djakarta Fair. Lambat laun ejaan tersebut berubah menjadi Jakarta Fair yang kemudian lebih popular dengan sebutan Pekan Raya Jakarta. Ide membuat PRJ pertama kali digagas oleh Syamsudin Mangan yang lebih dikenal dengan nama Haji Mangan. Saat itu, beliau adalah Kamar Dagang dan Industri (KADIN).

Baca juga: Menggali Manfaat Media Sosial Dalam Memajukan Pariwisata Di Indonesia

Haji Mangan mengusulkan suatu ajang pameran besar untuk meningkatkan pemasaran produksi dalam negeri. Usul itu disampaikannya pada Gubernur DKI kala itu dijabat oleh Ali Sadikin atau yang lebih dikenal oleh Bang Ali pada tahun 1967. 

Ide ini disambut baik oleh Pemerintah DKI karena ada keinginan menyatukan berbagai “pasar malam” yang ketika itu masih tersebar di wilayah Jakarta seperti Pasar Malam Gambir yang tiap tahun berlangsung di bekas Lapangan Ikada (kini kawasan Monas).

Baca juga: Urutan Golongan Darah Paling Pintar, Kamu Keberapa Nih?

Haji Mangan terinspirasi dari berbagai event pameran internasional yang sering diikutinya sebagai seorang konglomerat di bidang tekstil di kala itu serta Pasar Malam Gambir yang dari dulunya sudah ramai dikunjungi.

Ide ini disambut baik Pemerintah DKI dengan membuat gebrakan dengan langsung membentuk panitia sementara yang dipercayakan kepada Kamar Dagang dan Industri (KADIN) yang ketunya dijabat oleh Haji Mangan.

Baca juga: 7 Bahaya Mie Instan Jika Terlalu Sering Mengonsumsinya

Untuk merealisasikannya, Pemerintah DKI mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) no. 8 tahun 1968 yang antara lain menetapkan bahwa PRJ akan menjadi agenda tetap tahunan dan diselenggarakan menjelang Hari Ulang Tahun Jakarta yang dirayakan setiap tanggal 22 Juni.

Pekan Raya Jakarta 1968-1969

Pintu masuk pameran PRJ di Lapangan Monas Tropenmuseum
Pintu masuk pameran PRJ di Lapangan Monas.

PRJ tahun 1968 atau DF 68 menjadi sukses digelar untuk pertama kali dan berhasil menyedot pengunjung hinggga kurang lebih 1, 4 juta orang. Pada PRJ 1969 atau DF 69, mencadi penyelenggaraan PRJ terlama karena berlangsung hingga 71 hari, di mana umumnya berlangsung 30-35 hari.

PRJ di tahun itu pun mendapat kunjungan dari Presiden Amerika Serikat Richard Nixon datang ke Indonesia dan sempat mampir ke DF 69. Nixon berhenti disebuah stan dekat Syamsuddin Mangan Plaza, sempat melambai-lambaikan tangannya ke pengunjung dan karyawan DF 69.

Baca juga; Apa Itu Plat Nomor Putih Dan Bagaimana Cara Mendapatkannya?

Penyelenggaraan PRJ atau Jakarta Fair ini, dari tahun ke tahun mulai mengalami perkembangan pengunjung dan pesertanya bertambah dan bertambah. Dari sekadar pasar malam, “bermutasi” menjadi ajang pameran Modern yang menampilkan berbagai produk.

Areal yang dipakai acara Pekan Raya Jakarta atau Djakarta Fair juga bertambah. Dari hanya tujuh hektare di kawasan Monas kini semenjak tahun 1992 dipindah ke Kawasan Kemayoran Jakarta Pusat yang menempati area seluas 44 hektare.

Pekan Raya Jakarta dari Monas ke Kemayoran

Pekan Raya Jakarta dari Monas ke Kemayoran
Pekan Raya Jakarta dari Monas ke Kemayoran.

Pekan Raya Jakarta yang diselenggarakan di Monas terakhir diselenggarakan pada 31 Mei hingga 20 Juli 1991. Penyelenggaraan PRJ di di tahun berikutnya digekar di kawasan JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat pada 9 Juni hingga 17 Juni 1992. Sejak saat itu hingga kini, PRJ terus diadakan di kawasan tersebut.

Baca juga: Formula E 2022 Jakarta Resmi Akan Digelar Di Ancol

JIExpo atau disebut juga Arena JIExpo Kemayoran merupakan sebuah pusat konvensi dan eksibisi yang terletak di Jakarta, Indonesia. Pusat konvensi dan eksibisi ini dibuka pada 1992 dan diprakarsai oleh Central Cipta Murdaya group. JIExpo memiliki 5 balai dengan kapasitas lima ribu hingga 12 ribu tempat duduk.

Leave a Reply

Top