You are here
Home > Gaya Hidup >

Wajib Tahu, Ini Dampak Negatif dan Positif Kebiasaan Multitasking

Dampak negatif dan positif kebiasaan multitasking

Dalam dunia pekerjaan, orang yang mampu melakukan semua aktivitas secara bersamaan atau disebut multitasking dianggap baik. Padahal nyatanya, multitasking tersebut dapat menurunkan produktivitas seseorang hingga 40 persen, lho. Berikut ini dampak negatif dan positif kebiasaan multitasking yang perlu kamu ketahui. 

Dampak negatif dan positif kebiasaan multitasking

Melansir dari Verywell Mind, penelitian telah menunjukkan bahwa otak ternyata tidak sebaik yang banyak orang pikirkan tentang multitasking. Faktanya, beberapa peneliti menyebutkan bahwa multitasking malah dapat mengurangi produktivitas sebanyak 40 persen.

Kelihatannya, multitasking memang ampuh untuk menyelesaikan banyak hal pada waktu yang sama. Padahal, kamu sebenarnya hanya melakukan tugas dengan cepat dan mengalihkan perhatian dari satu hal ke hal berikutnya. Beralih dari satu tugas ke tugas lainnya justru bisa menyulitkan kamu dan bahkan memperlambat pekerjaan. Berikut ini dampak negatif dan positif kebiasaan multitasking.

Dampak negatif multitasking

Dampak negatif dan positif kebiasaan mutlitasking
Dampak negatif kebiasaan multitasking bagi kesehatan. (Gambar: http://pexels.com)

Bukan hanya menurunkan produktivitas, ternyata multitasking juga bisa menimbulkan berbagai dampak negatif yang mungkin tidak akan kamu kira. Berikut sejumlah dampak negatif dari multitasking yang dihimpun dari laman Psychology Today:

1. Mampu merusak otak

Kedengarannya memang berlebihan dan menyeramkan. Namun, sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa orang-orang yang sering melakukan banyak tugas mengalami penurunan materi abu-abu otak mereka, khususnya di area yang terkait dengan kontrol kognitif dan regulasi motivasi dan emosi.

Selain itu, efek multitasking lainnya adalah berpotensi menurunkan kemampuan menyimpan atau mengingat memori jangka panjang.

2. Menimbulkan masalah memori

Sebuah studi pada 2016 menemukan bahwa orang yang sering melakukan multitasking dalam jangka waktu yang panjang menunjukkan kelemahan dalam memori kerja dan memori jangka panjang. Memori kerja adalah kemampuan untuk menyimpan informasi yang relevan saat mengerjakan tugas. Sedangkan memori jangka panjang adalah kemampuan untuk menyimpan dan mengingat informasi dalam periode waktu yang lebih lama.

Baca Juga:  Olahraga yang Dianjurkan Penderita Penyakit Jantung Selama Pandemi

3. Meningkatkan gangguan

Peneliti mempelajari orang yang multitasking di rumah selama periode tujuh hari. Mereka menemukan bahwa semakin banyak orang melakukan multitasking, semakin besar kemungkinan untuk menunjukkan perilaku distractibility

Perilaku ini terjadi ketika seseorang mudah terganggu oleh keadaan apapun. Jadi, ketika ada begitu banyak gangguan, seseorang dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara gangguan yang penting dan yang tidak penting.

4. Meningkatkan risiko stres kronis

Sebuah penelitian terhadap mahasiswa menemukan bahwa semakin banyak siswa yang multitasking, maka mereka semakin rentan mengalami stres. Jika dibiarkan terlalu lama, stres bisa berkembang menjadi stres kronis. 

5. Meningkatkan risiko depresi dan kecemasan sosial

Peneliti meneliti hubungan antara multitasking, penggunaan media, dan kesehatan emosional. Meskipun tidak ada korelasi antara penggunaan media dan hasil negatif dalam penelitian ini, para peneliti menemukan bahwa semakin banyak peserta yang melakukan banyak tugas, semakin besar kemungkinan untuk melaporkan gejala depresi dan kecemasan sosial.

6. Kurang produktif dan efisien

Adapun penelitian yang coba membuktikan multitasking mampu membuat seseorang lebih produktif dan efisien. Hasilnya ternyata justru menunjukkan kebalikan dari apa yang diyakini kebanyakan orang. Nyatanya, multitasking justru membuat pekerjaan menjadi kurang efisien dan produktif.

7. Rentan kehilangan fokus

Salah satu efek kerja multitasking adalah rentannya kehilangan fokus. Orang yang sering melakukan lebih dari satu tugas atau kegiatan dalam satu waktu, lebih gampang teralihkan perhatiannya atau kehilangan fokus. Bahkan, para peneliti menjelaskan bahwa dengan semakin sering kehilangan fokus, maka para multitaskers akan kesulitan membedakan mana interupsi yang penting dan tidak penting.

Selain itu, studi lain membandingkan antara pelaku multitasking yang mengerjakan hal berat serta ringan. Hasilnya, multitasker yang mengerjakan hal berat tampil buruk dalam tes kemampuan pengalihan tugas. Penyebabnya adalah mereka menghadapi kesulitan yang lebih besar dan membutuhkan pusat perhatian berlebih pada satu objek.

Baca Juga:  Tetap Efektif dan Produktif, Ini Tips Work From Home yang Wajib Dilakukan

Melakukan multitasking erat kaitannya dengan penggunaan gawai. Salah satu studi dari University of Essex menunjukkan bahwa memiliki ponsel di dekat Anda saat melakukan percakapan serius dengan pasangan akan sangat mudah menimbulkan distraksi. Hal tersebut menjadikan dampak multitasking dapat menyebabkan masalah, seperti berbeda pendapat dan kurangnya kepercayaan terhadap pasangan.

Dampak positif multitasking

Kendati banyak dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari multitasking, hal ini tidak serta-merta buruk, kok. Menurut studi, orang multitasking cenderung punya kemampuan kognitif yang lebih baik dalam mengintegrasikan informasi visual dan auditori. Integrasi multisensori tersebut punya pengaruh positif pada kemampuan kognitif seseorang.

Itulah dampak negatif dan positif kebiasaan multitasking. Walaupun seringkali dianggap baik ketika sedang melakukan suatu pekerjaan, tetapi nyatanya multitasking juga memiliki dampak negatif bagi kesehatan tubuh.

Baca juga: 5 Olahraga untuk Kesehatan Otak yang Bisa Kamu Lakukan Saat Waktu Luang

Bagikan
Arianti
I am content writer who has an interest in lifestyle news.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top