SDH Lippo Harapan Sekolah Dian Harapan Display Ad
Sunday, April 7, 2024
spot_imgspot_img
HomeKesehatanMarak Cyberbullying, Riliv Perluas Akses Kesehatan Mental

Marak Cyberbullying, Riliv Perluas Akses Kesehatan Mental

MediaGo – Meluasnya penggunaan media sosial telah memungkinkan orang untuk berbagi cerita dan pengalaman pribadi mereka secara online, yang terkadang berakibat cyberbullying.

Cyberbullying adalah masalah global yang terjadi ketika individu melecehkan, mengintimidasi atau mengancam orang lain melalui platform digital, seperti media sosial, aplikasi pesan instan, atau forum online.

Sebuah studi di tahun 2019 yang dilakukan oleh Polling Indonesia Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebut, isu mengenai bullying dan cyberbullying di Indonesia telah beredar luas.

Baca juga: Melawan Pelecehan Seksual di Dunia Digital

Ada sekitar 49 persen pengguna internet di Indonesia pernah mengalami perundungan di media sosial atau cyberbullying.

Fenomena tersebut mendorong Audrey Maximillian Herli memutuskan untuk memberikan layanan konseling di kampus, agar mahasiswa dapat mengungkapkan perasaannya serta didengarkan.

Pada tahun 2015, mahasiswa IT di Universitas Airlangga, Surabaya ini mencari mahasiswa psikologi yang dapat mendengarkan siapa saja yang menceritakan kekhawatiran dan memberikan respons tentang kesulitan emosional dalam suasana santai.

Baca juga: Waspada! 7 Ciri-Ciri Rekan Kerja Toxic

Ia menyiapkan aplikasi untuk memfasilitasi layanan ini dan membiarkan teman kampusnya menggunakannya secara gratis.

Konseling Cyberbullying

Di akhir tahun 2015, Maxi dan saudaranya, Audy Christopher Herli, mengembangkan ide tersebut menjadi Riliv, sebuah startup yang menawarkan layanan konseling dan kesehatan mental.

Pria yang akrab disapa Maxi ini mengungkapkan, pandemi COVID-19 telah membawa orang mengalami kecemasan, depresi, trauma, atau sindrom psikologis lainnya.

Di samping itu, kebangkitan pendidikan dan tingkat ekonomi di Indonesia telah meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental dan menghilangkan stigma penyakit mental dari waktu ke waktu.

Baca juga: Pentingnya Etika dan Toleransi dalam Bermedia Sosial

Faktor-faktor ini memainkan peran penting dalam membantu membentuk kesiapan pasar untuk menormalkan penerapan layanan kesehatan mental.

“Pasca pandemi, Maxi mengungkapkan permintaan konsultasi online melonjak sangat tinggi, hingga 800 persen,” ungkapnya.

Selain itu, Maxi memaparkan, semakin banyak orang yang menyadari pentingnya kesehatan mental dan merasakan meningkatkan kualitas hidup mereka, baik secara fisik maupun mental.

Baca juga: Tanda-Tanda Media Sosial Memengaruhi Kesehatan Mental dan Cara Mengatasinya!

“Selain itu, mereka juga sudah merasa nyaman dengan konsultasi online. Maka, preferensi sistem online masih ada,” tambahnya.

Hingga Maret 2023, lebih dari 900.000 orang di seluruh Indonesia telah mengunduh aplikasi Riliv, dan lebih dari 100 psikolog profesional bermitra dengan Riliv untuk memecahkan masalah pengguna.

Ada tiga fitur favorit Riliv, seperti Counseling, Journal, dan Meditation, untuk pengguna individu dan karyawan perusahaan.

Baca juga: Hati-Hati Jejak Digital, Ini 5 Hal Penting yang Tidak Perlu Diumbar di Sosial Media

Di Pulau Jawa, kota-kota seperti Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Jawa Tengah menjadi kota teratas terkait penetrasi pengguna Riliv.

Hingga pada tahun 2022, Riliv menggalang pendanaan yang dipimpin oleh East Ventures, perusahaan venture capital.

“East Ventures saat ini mendukung beberapa startup kesehatan mental, termasuk Riliv, karena kami percaya bahwa menjaga kesehatan mental sama dengan menjaga kesehatan fisik,” kata David Fernando Audy, Operating Partner East Ventures.

CopyAMP code

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisment -spot_img

Most Popular