Kasus keracunan makanan pada anak semakin meningkat sejalan dengan program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai didistribusikan di seluruh Indonesia. Angkanya pun tak tanggung-tanggung, per 27 September 2029 jumlah korban keracunan MBG mencapai 8.649 orang.
Pada dasarnya program MBG ini memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi anak-anak yang sulit mendapatkan makanan bergizi untuk tumbuh kembangnya. Akan tetapi, penyelenggaraan yang keliru juga berdampak sangat serius bagi kesehatan anak-anak.
Sebagai orang tua, prioritas kamu tentu menjaga kesehatan anak. Sebab sulit sekali menolak atau melarang anak mengonsumsi MBG. Alternatif cara lainnya dengan mengetahui pertolongan pertama keracunan makanan pada anak sampai gejala anak mengalami keracunan.
Gejala Anak Mengalami Keracunan
Sebenarnya keracunan makanan bisa disebabkan karena apa pun, bukan hanya karena mengonsumsi menu makanan dari program MBG. Kendati demikian, kasus keracunan anak meningkat setelah program MBG ini.
Salah satu menu MBG yang cukup menuai pro kontra adalah mengonsumsi daging ikan hiu. Apakah Hiu Boleh Dimakan? Ini Dampaknya Bagi Kesehatan. Untuk itu, Ibu perlu mengetahui gejala keracunan pada anak secara bertahap.
Gejala keracunan masing-masing anak berbeda. Ada gejala yang bisa langsung terlihat beberapa jam pasca mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah terkontaminasi. Namun, ada juga gejala yang baru terlihat beberapa hari ke depan.
Belum lagi gejala keracunan yang disebabkan virus atau bakteri bisa berbeda. Secara garis besar, berikut ini gejala anak mengalami keracunan makanan:
- Pusing dan sakit kepala.
- Tubuh jadi lebih lemas.
- Merasakan sakit perut seperti nyeri dan kram.
- Merasa tidak enak badan, khususnya perut yang terasa mual.
- Muntah-muntah.
- Diare berbentuk cair ataupun berbentuk darah.
- Tubuh demam dengan suhu di atas 37 derajat celcius.
- Kehilangan nafsu makan.
Efek keracunan makanan di atas dirasakan anak dalam kurun waktu beberapa hari atau beberapa minggu. Selama bergejala pun racun ikut keluar. Misalnya anak sering muntah atau diare, maka virus dan bakteri dalam bentuk racun tersebut ikut keluar dari tubuh anak bersamaan dengan keluarnya cairan diare atau muntah. Begitu pula gejala yang lain.
Cara Mengatasi Keracunan Makanan pada Anak
Bila Ibu menemukan gejala keracunan pada anak, berikut ini pertolongan pertama atau cara mengatasinya di rumah.
1. Hindari Memberikan Makanan Padat Dulu
Ketika anak keracunan, jangan langsung beri makanan padat seperti biskuit atau roti. Sebab saat ini sistem imunitas tubuh sedang bekerja maksimal untuk mengeluarkan racun. Bila kamu memberikan makanan padat justru akan memperparah gejalanya.
2. Berikan Anak Makan dalam Porsi Kecil
Pilih jenis makanan yang lebih mudah dicerna anak namun dalam jumlah porsi yang lebih kecil. Jangan memaksakan anak untuk terus makan atau makan dalam porsi normal. Cukup memastikan bahwa anak tetap makan sekalipun dalam porsi kecil. Kalau anak terlihat mual, segera hentikan memberi makanan tersebut.
3. Banyak Konsumsi Air Putih
Gejala muntah dan diare yang dialami anak bisa menyebabkan dehidrasi. Bila dibiarkan begitu saja, Si Kecil berisiko mengalami gangguan elektrolit. Oleh sebab itu, pastikan anak mengonsumsi air putih. Tak perlu banyak air putihnya asalkan frekuensi minum air putih lebih sering.
4. Berikan Anak Air Kelapa
Cara lain untuk mengatasi keracunan ataupun gangguan elektrolit, berikan anak air kelapa. Kandungan air kelapa seperti sodium, magnesium, kalsium dan potasium yang menjaga keseimbangan cairan di saat anak mengalami gejala keracunan.
5. Berikan Minuman Jahe atau Madu
Tak ketinggalan memberikan minuman jahe atau madu untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh anak. Madu bermanfaat untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan sekaligus menjadi obat alami mengatasi racun makanan.
Sementara jahe sudah dikenal sejak dahulu memiliki khasiat untuk melawan racun di dalam tubuh manusia, mengurangi efek infeksi hingga menghangatkan tubuh.
6. Pastikan Anak Memiliki Waktu Istirahat Cukup
Langkah terakhir yakni memberikan waktu anak beristirahat yang cukup. Tubuh anak akan semakin lemas dan lesu karena gejala keracunan yang terus dialaminya. Untuk mengembalikan energi, berikan waktu anak untuk beristirahat.
Kapan Harus Dibawa ke Dokter?
Tak sedikit kasus keracunan makanan memiliki dampak cukup serius dan membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh dokter spesialis. Apalagi melihat berita saat ini di mana ada banyak siswa yang dibawa ke dokter karena keracunan menu makanan dari program makan bergizi gratis.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumya kalau gejala keracunan makanan tergantung dari patogen atau virus dan bakteri yang menginfeksinya ditambah respons sistem imunitas tubuh anak.
Jika anak memperlihatkan gejala-gejala keracunan di bawah ini, maka saran dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) segera bawa anak ke dokter. Berikut ini gejala anak keracunan makanan yang harus dibawa ke dokter:
- Mengalami muntah terus-menerus tanpa henti selama 24 jam.
- Muntah-muntah yang dialami anak diikuti dengan darah atau muntah berwarna hijau gelap.
- Mendeteksi adanya gejala dehidrasi seperti mulut atau bibir kering, terlihat sangat lesu, jarang buang air kecil, anak menangis tanpa mengeluarkan air mata.
- Anak terus mengeluhkan rasa sakit perut yang sangat sakit dan tidak terlihat membaik.
- Mengalami diare terus-menerus ataupun diare berdarah.
- Anak mengalami demam dengan suhu sangat tinggi.
Setelah mengetahui informasi penting keracunan makanan pada anak di atas. Kini, kesehatan anak akan semakin terjaga di saat pemerintah masih terus memperbaiki menu pada program makan bergizi gratis.





